Breaking News
Home / Tulisan / Spiritual / Adakah yang lebih Berharga?

Adakah yang lebih Berharga?

Adakah Yang Lebih Berharga ?

Jakarta, Senin 14 Juli 2008.

Oleh Abdul Latief

Pagi ini kuawali dengan berdoa dan berdendang ceria sepanjang perjalanan dari petak kecil kamar kost menuju kantor. Kebiasaan ini kurasa cukup efektif untuk mengurangi ketegangan mental dan himpitan beban pekerjaan yang akan kuhadapi di hari ini. Maklum, dunia kerja menuntut banyak hal dari kita terutama kesiapan untuk melakukan tugas apapun jika ingin tetap bertahan dan sukses.

 

Sebungkus mie ayam favorit di depan kantor menemani pagiku di ruang makan kantor, sambil berbincang hangat dengan beberapa rekan kantor yang juga menyantap sarapan membuatku pagi ini demikian berwarna. ”Thanks God today is a new day…!

Aktifitas kulanjutkan dengan menyalakan laptopku untuk mengecek email, barangkali ada beberapa hal penting berkaitan dengan rencana trainingku ke beberapa kota di bulan ini. Dari beberapa email, ada satu email yang paling memikat perhatianku bersubjek ”Mohon Pamit”. Email itu berisi permohonan pamit dari karyawan yang akan resign dari kantorku, kali ini rekan dari cabang Makasar yang mengakhiri masa baktinya setelah 2 tahun 6 bulan bergabung di perusahaan ini. ”Selamat berjuang kawan, semoga tercapai apa yang kau harapkan dalam hidupmu, sampai jumpa..!” batinku mendoakannya dari kejauhan.

Dalam hitungan 3 bulan ini aku memang banyak merasakan aura ketidaknyamanan dari banyak orang yang kukenal di beberapa perusahaan. Keluhan dan curahan hati seringkali mereka utarakan padaku dalam berbagai kesempatan. Empat rekan sekolahku menyatakan telah pindah kerja karena mencari harapan hidup yang lebih baik ketimbang tempat kerjanya semula. Beberapa rekan kuliahku memuntahkan perasaannya melalui email, telepon dan SMS yang menyatakan sudah tidak kerasan di tempat kerjanya saat ini. Beberapa rekan kantorku juga menyiratkan hal yang sama saat kami tengah berbincang sambil sarapan, makan siang atau shalat jamaah di mesjid, bahkan diantaranya sudah dalam ketidaksabaran yang akut.

”What’s Up doc…?” tanyaku dalam hati. Beragam alasan kegundahan yang mereka rasakan, ada yang tidak cocok dengan iklim kerjanya saat ini, ada yang kecewa karena tidak naik pangkat dalam beberapa tahun, ada yang tidak nyaman dengan atasannya, ingin mencari penghasilan yang lebih baik, bahkan ada juga yang merasa idealisme dan harapannya tidak sesuai dengan kenyataan yang diterima di tempat kerjanya saat ini.

Sejenak kutermenung di depan Laptop ku yang tengah menatapku gamang, kucoba menelusuri labirin memoriku, mencari jawab atas masalah yang dihadapi mereka. Bagiku ini bukan hanya masalah mereka, melainkan juga masalah tersendiri bagiku. Kehidupan seperti menatap cermin, saat kita melihat masalah orang lain, sesungguhnya kita diberikan gambaran bahwa itupun masalah yang suatu saat akan kita hadapi. Saat melihat orang berbuat jahat, maka itu cermin buatku bahwa aku jangan sampai melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Jadi, tak ada masalah yang bersifat tunggal untuk satu orang, melainkan akan menjadi pelajaran berharga buat semua orang dalam menapaki perjalanan hidup.

Dalam setengah perenunganku, aku teringat pada obrolanku dengan rekan office boy di cabang Palembang, Pak Romalikun namanya. Beliau dua tahun lagi akan pensiun setelah menjalani tugas selama 24 tahun di perusahaanku. Setiap kali aku training di Palembang beliaulah yang dengan setia menyiapkan ruangan dan segala perlengkapan lainnya. Daya tarik yang luar biasa darinya adalah tak pernah sekalipun tersirat rona sedih, lelah, kesal, marah, ataupun ekspresi wajah yang negatif. Senyum tulus dan sapaan hangat menjadi ciri khas lain darinya. Saat menyiapkan meja training, coffee break, lunch dan setiap tugas yang dijalani, beliau taburkan senyum di dalamnya. Sapaan hangat dan tawa saat berbincang ikut menularkan rasa senang di hatiku, walaupun sesekali aku merasa geli dengan tawanya yang memunculkan gigi depannya yang ompong, tapi hal itu tidak membuatnya sedikitpun mengurangi senyum dan tawanya.

Suatu kali aku pernah tergelitik untuk bertanya, mengenai peci Putih yang dikenakan kepalanya yang beruban. Pasalnya, beberapa kali kami datang ke Palembang, baru kali ini beliau mengenakan peci putih. ”Wah Peci Putihnya bagus pak, Bapak sudah pergi ke haji pak?” tanyaku ingin tahu.

Alhamdulillah sudah Mas, belum lama ini…” jawabnya sambil tersipu.

Wah Bapak luar biasa, doakan saya pak, biar cepat pergi haji.. saya pengen banget Pak.. tapi duitnya belum ada Pak.. ” tuturku sambil membalas senyumnya.

”Insya Allah Mas pasti bisa.. saya pun gak menyangka bisa berangkat haji, padahal niatnya uang pensiun saya akan saya gunakan untuk menunaikan ibadah haji tapi ternyata…..” Pak Romalikun tak lagi menebarkan senyumnya, kini sebulir air mata menetes dari pipinya yang mulai keriput. Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan ceritanya…

”Gaji saya gak seberapa Mas, sangat pas-pasan untuk makan dan sekolah anak-anak saya, syukurnya saya punya istri dan anak yang tidak pernah mengeluh dengan berapapun penghasilan yang saya berikan untuk mereka, dalam setiap kesempatan memang saya selalu selipkan doa agar kami sekeluarga diberikan kekuatan menjalani hidup di jalan-NYA.” dia kembali menghela napas dan menyeka setetes lagi air matanya.

”Setiap bulan saya selalu memberikan uang gaji saya pada istri, jumlahnya sangat kecil bahkan mungkin kurang, tapi hanya itu yang saya dapatkan dari pekerjaan saya ini. Yang menguatkan saya adalah senyum dan doa keluarga  yang ikhlas menjalani hidup bersama saya apa adanya”

”Wah enak ya pak punya istri kayak gitu.. cariin buat saya donk pak…ha ha ha…” ungkap saya takjub sambil menyegarkan suasana.

 

” Ah Mas bisa aja.. insya Allah nanti juga mas dapat.. makanya cepetan nikah.. ha ha…” balasnya skak Mat bagiku.

Yang membuat saya tak kehabisan rasa syukur, ternyata saat saya mengutarakan niat saya untuk menggunakan uang pensiun sebagai modal naik haji, ternyata istri saya malah mengajak saya pergi haji tahun ini juga, jika memang saya berkenan dan sudah siap. Istri saya kemudian mengeluarkan rekening tabungan, yang seumur hidup baru kali ini saya lihat buku tabungan itu. Ternyata selama belasan tahun ini istri saya menyisihkan sebagian uang belanja yang minim itu untuk bekal pergi haji tanpa sepengetahuan saya sedikitpun. Ini sebuah anugerah Allah buat saya.. saya tak bisa menahan rasa haru saya.” paparnya sambil tak kuasa menahan air matanya yang terus menganak sungai.

Subhanallah… lalu, uang pensiun Bapak pasti utuh donk..! mau dipakai apa pak? Buat usaha setelah pensiun?” tanyaku lagi.

”Mas, kebetulan saya punya rumah dan sepetak tanah di kampung, jadi saya mau pulang kampung dan jadi bercocok tanam di sana, tapi bukan untuk usaha, sekedar untuk mengisi masa tua dengan kegiatan yang sehat, dan menumpuk bekal ibadah selagi masih sempat. Mas, saya ini sudah bekerja puluhan tahun, masak semua umur saya hanya digunakan buat mencari uang, Ada yang lebih berharga selain Uang, pangkat, dan Jabatan. Ibadah saya yang masih seadanya dan waktu bersama keluarga yang minim masih lebih berharga untuk dibayar saat saya pensiun nanti. Hidup bagi saya bukan tumpukan rekening bank yang tidak bisa saya bawa mati, melainkan amal ibadah. Terlalu banyak nikmat Allah yang belum sempat saya syukuri.. jadi selagi ada kesempatan saya akan terus bersyukur…” paparnya sambil berpamitan karena harus membereskan gelas dan piring kotor bekas coffee break.

 

Melalui tulisan ini aku hanya berharap kita menghapus air mata dan terjangan gundah yang merasuki sanubari kita. Adakah yang lebih berharga dari Uang, Pangkat, Jabatan, dan Popularitas ? kalau ada, maka sudah saatnya kita mengejar itu. Kalaupun tidak, mari sama-sama kita cari KESEIMBANGAN HIDUP DUNIA-AKHIRAT.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About Admin

Check Also

Celanaku Kendor Neh…!

Celanaku Kendor Neh…! Jakarta, 4 September 2008 Oleh Abdul latief “Kalau bulan puasa gini, mesjid …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *