Breaking News
Home / Tulisan / Seni Kehidupan / Aku dan Mereka Berbeda

Aku dan Mereka Berbeda

Aku dan Mereka Berbeda

Inspirasi dari baby sitter di Mall Ciputra Semarang.

Semarang, 15 Juni 2008, 22.00 WIB.

Oleh Abdul Latief

 

Minggu aku dinas di Semarang, langit Semarang mulai menghitam seiring mentari yang menyelinap malu-malu  ke peraduannya. Seorang rekan kantor menyambut hangat di Bandara, sambil memandu ke tempat parkir dan berbincang hangat, ia memberikan kunci mobil untuk operasional selama di Semarang.

Aku dan rekan Semarang berpisah di lahan parkir bandara, lantas bergegas menuju salah satu hotel berbintang empat di wilayah simpang lima. ‘Kamar Twin beds, no smoking floor dan berada di dekat lift’ selalu menjadi pesananku setiap kali menginap di Hotel. Setiap kali dinas aku selalu menginap sekamar dengan atasanku sebagai mitra satu tim.

Setelah check in, menaruh barang, dan shalat, tiba saatnya kami mencari makan. Mall yang bergandengan dengan hotel selalu menjadi pilihan kami makan malam di Semarang, sekalian melampiaskan hobbi memperhatikan keragaman manusia.

Melangkahkan kaki di mall malam ini, membuat hatiku bergidik beberapa kali, bukan lantaran aura gaib Lawang Sewu* sudah pindah ke mall ini, melainkan beberapa hari ini perasaanku begitu sensitive, hatiku sangat mudah terenyuh di minggu ini. Melihat pengemis di pinggir jalan, adalah keseharian yang tak terelakkan, tapi di minggu ini sebutir air mata menetes tak terbendung dari pelupuk mataku. Saat menjenguk kakakku yang tengah dirawat di rumah sakit, kembali mengalirkan beberapa tetes airmata seraya mengingat kenanganku menjenguk mendiang ayah di rumah sakit dengan masih mengenakan seragam SD. Menyaksikan pengamen cilik, kondektur tua, ibu supir busway, nenek calo terminal senen, pedagang asongan dekat kost, dan beberapa kejadian lainnya cukup membuat hatiku tersentuh dan sedih di minggu ini. Bahkan pagi sebelum berangkat ke Semarang, aku sempat hadir dalam acara pernikahan sepupu laki-lakiku, kurasakan aura perpisahan yang sangat dengan sepupuku yang selama ini begitu dekat denganku, lagi-lagi kutuangkan setetes air mata di pernikahannya.

Lagi, malam ini saat makan di salah satu restoran frenchise nasional, kulihat di seberang mejaku, duduk sekelompok pengunjung dengan 4 orang dewasa, 3 orang anak kecil dan seorang remaja putri. Dilihat dari penampilan dan pola komunikasinya dapat kupastikan bahwa mereka adalah dua keluarga muda yang tengah menikmati makan malam di luar. Tak ada yang aneh dari penampilan mereka, tak cukup unik untuk menarik perhatianku yang tengah memperhatikan hilir mudik pengunjung mall dengan busana, polah, tingkah dan penampilan yang sangat beragam.

Sepuluh menit menunggu, pesanan belum juga datang, entah kenapa pandangan mataku kembali tertuju pada dua keluarga tadi, ternyata ada seorang yang berbeda dan unik dari mereka. Semua anggota keluarga berkulit putih bersih, terawat penampilannya dan mengenakan busana trendi. Tidak demikian dengan remaja putri yang duduk semeja dengannya, kulitnya coklat gelap, tak ber make-up dan berseragam putih kusam dengan renda merah yang biasa menghiasi celemek. “Ia pasti baby sitter yang kini tengah menggejala di lingkungan hidup para keluarga muda Indonesia”, gumamku.

Antusias obrolan tak pernah surut dari setiap anggota di meja makan tersebut, keakraban sedemikian terbangun dalam setiap canda dan tawa mereka. Hal inipun menambah kontras pemandangan dihadapanku, sebab sang gadis hanya termangu dengan tatapan kosong memandangi setiap pengunjung mall yang lalu lalang melintas. Pikiran gadis itu menerawang dengan sejuta bersitan rasa sedih yang sekuat tenaga dia sembunyikan, aura kesedihannya bisa menyeruak dan menelusup ke dasar hatiku yang ikut menabar pesona kedukaan di hatiku.

Sesekali lamunannya terusik oleh polah bocah cilik yang selalu rewel menggelayutinya, ia layani rengekan bocah cilik dengan senyum paksaan dan kesabaran yang tersisa menghadapi kemanjaan sang bocah. Ia suapi sang bocah dengan telaten padahal sang gadis terlihat lapar tanpa satu makananpun yang disiapkan untuknya. Air liur dan asam lambung mungkin sudah menganak sungai di dirinya, tak satupun anggota keluarga yang menawarkan seremah makananpun untuknya. Sang nyonya hanya bisa mengawasi dengan tetap asyik memuatkan ratusan butir nasi ke mulutnya yang tak berhenti mengunyah.

Entah kenapa sang bocah demikian menyebalkan malam itu, dia menangis dan menuntut layanan macam-macam, lagi-lagi sang nyonya hanya bisa berujar ”kamu urus dong anakku itu dengan benar… masak sich bikin bocah diam saja kamu gak becus..!” sang nyonya kembali asyik dengan santapannya tanpa peduli bahwa sang bocah adalah anak kandungnya, dan belum sesuap nasipun ia tawarkan pada sang gadis.

Segunung ledakan atom kemarahan di diriku hampir saja tak terbendung, sungguh ingin kulabrak nyonya dan tuan yang tak berperikemanusiaan itu, ingin kulemparkan piring makanan ke muka mereka sambil kucaci maki mereka atas perlakuan diskriminasi mereka atas gadis itu. Rupanya akal sehatku masih kuasa menangkal amarah yang berlebih dariku.. ”Astaghfirullah al Azhim.. balaslah segala kejahatan dengan hikmah kebaikan.. kalau kau balas perbuatan mereka dengan kekerasan, berarti aku sama saja bahkan lebih buruk dari mereka” bathinku menenangkan luapan emosi.

Bagiku pengalaman gadis baby sitter itu adalah bagian dari pelajaran hidup yang sangat berharga, malam ini aku berjanji bahwa tidak akan berbuat demikian pada siapapun sekalipun. Terlalu banyak manusia yang berbuat nista pada sesama. Kutak ingin menambah angka statistik keangkuhan sosial di zaman ini. Cukuplah bagiku menyaksikan dunia yang penuh dengan keacuhan social, manusia banyak yang buta mata hatinya dan tuli dengan kesombongannya. Menusia begitu asyik menikmati hidup tanpa peduli realita kesengsaraan yang ada dihadapannya.

Tidak hanya pada orang tua, bahkan benih keacuhan sosial mulai berkecambah lebih dini pada jiwa remaja dan anak kecil. Masih terngiang di benakku tentang kisah seorang rekan yang menceritakan anaknya yang selalu merengek jika ingin sesuatu, apapun yang diinginkan wajib dipenuhi, dan tidak akan berhenti merengek sebelum ayahnya memenuhi keinginannya. Suatu saat, saat anaknya merengek meminta mainan yang diinginkan, ia mencoba untuk meredam, kebetulan kala itu mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah lampu merah yang sarat dengan pengemis dan pengamen cilik. “De, coba Ade liat mereka, untuk makan saja mereka susah, harus capek ngamen seperti itu, mestinya Ade bersyukur bisa makan dan sekolah dengan cukup ..” nasihat rekanku.

Itukan mereka, salah sendiri mereka miskin, aku kan berbeda dengan mereka, aku punya ayah yang bisa beliin aku mainan, jadi aku dan mereka gak sama.. pokoknya beliin mainan itu..” jawab anaknya di luar dugaan. Temanku hanya bisa mengurut dada, mencari jawab atas realita di matanya.

Aku dan kamu berbeda, kamu dan dia juga berbeda, pun dia dan kita berbeda, kita dan mereka pasti berbeda, perbedaan ada antara kita semua, tapi satu hal yang menyatukan kita.. bahwa kita adalah MANUSIA dengan semua anugerah kesempurnaan yang diberikan Allah untuk kita, maka manusiakanlah manusia, berlakukalah sebagai manusia yang dihendaki Allah sesuai amanat kemanusiaan NYA untuk kita. Wallahu A’lam.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About Admin

Check Also

Hidup Kreatif

HIDUP KREATIF       “Untuk menjadi kreatif, kita harus terbiasa untuk tidak terbiasa”–Yoris Sebastian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *