Breaking News
Home / Tulisan / Seni Kehidupan / Aku Gak Mudik

Aku Gak Mudik

Aku Gak Mudik

Jakarta, 24 September 2008.

Oleh Abdul Latief

 

 

 

Sudah jarang tarawih di mesjid mas? Mesjid makin kosong tuh…” tanya Kusnadar, rekan kost ku saat aku dan beberapa rekan berbuka puasa di beranda kost yang cukup nyaman dan luas.

Iya neh, lagi senang tarawih di kamar.” jawabku sambil sambil menyeruput mug besar berisi teh yang dicampur dengan susu, madu, dan es.

”Ngomong-ngomong, kalian ada rencana ke mall untuk beli baju gak?” tanyaku.

Wah, malas ah… kemarin gw pergi ke mall tapi padatnya Ruarr Biassa… untuk jalan aja susah. Kayaknya semua jamaah mesjid sudah pindah ke mall..!” kali ini moris yang menimpali, dengan bakwan di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam mangkuk es campur racikannya sendiri.

Itu yang namanya berkah, bayangkan di bulan puasa ini Allah melimpahkan rizeki pada setiap umat. Hampir tak ada satupun penduduk bumi ini yang kelaparan, semua dapat mengalap berkah. Coba perhatikan sepanjang jalan ke kompleks kita, banyak penjual makanan dadakan, para pengemis berlimpahan sedekah, mesjid penuh dengan sumbangan berbuka puasa dan zakat, pokoknya berkah deh..” Kusnandar kini berorasi bak pendakwah kondang di depan ribuan jamaah, ia tak sadar bahwa gorengan di piring hampir habis dilahap rekan-rekan yang semakin buas.

Ngomong aja lo..! buktinya pengemis tetap menjadi pengemis, orang miskin tetap abadi dengan kemiskinannya. Dan tak sedikitpun kita temukan koruptor yang insyaf, padahal sebulan penuh para koruptor itupun berpuasa. Puasa jalan, korupsi tetap lancar..!” timpal Moris.

”Itu artinya, mereka belum bisa mengambil hikmah dari puasa yang dijalankan. Tapi tetap bulan puasa ini penuh hikmah dan berkah, buktinya lo juga dapat THR kan?

THR kan hak dan hasil kerja keras kita

Iya, tapi didapatnya di Bulan Ramadhan kan?”

Kusnandar dan Moris saling bersahutan dengan tak lupa menyumpal mulut mereka dengan kurma, gorengan, kolak, es biji salak dan es campur. Sedangkan aku dan kawan yang lain tetap asyik menyaksikan perdebatan itu.

Sudahlah kita shalat maghrib dulu, makin ditunda makin kecil pahalanya…” kini kusnandar mengalah, ia terlebih dahulu pamit membawa 2 buah gorengan di tangan kanannya. Begitupun dengan Moris, dan 3 rekan lainnya.

Aku masih asyik di beranda kost menghabiskan sisi minuman yang sangat kunikmati. Disampingku, Warsito tengah duduk menatap beberapa butir bintang yang mulai menyembul di cakrawala. Sejak tadi kuperhatikan dia memang agak lain, tak seperti Warsito yang kukenal. Sesekali dia tertawa dalam perbincangan tadi, tapi tak lepas. Seakan ada jangkar berat yang tertambat di hatinya, sehingga senyum susah terkembang di bahtera bibirnya.

Ada apa Mbah, kok ngelamun aja sich, malu tuh diliatin nyamuk yang lagi pacaran..!.” kami memang biasa memanggilnya Mbah Warsito, bukan karena dia sudah tua atau keramat seperti benda pusaka di museum, melainkan nama warsito seakan menemukan padanan yang pas dengan kata ’Mbah’. Lagian, WARung naSI soTO di dekat kost kami penjualnya adalah Mbah-Mbah.

”Iya nih, lebaran ini saya gak kebagian jatah mudik Mas. Saya dapat giliran jaga pintu tol di lebaran ini. Perusahaan lain mungkin bisa libur, tapi jalan tol kan gak bisa libur, imbasnya sayapun gak bisa libur mas… saya kangen sama kampung saya”. Tak sedikitpun dia menoleh padaku, tatapannya masih hambar, semakin tajam dan dalam ia memperhatikan angkasa, seakan tengah melukis abstrak kenangan tentang emak, bapak, adik, kakak dan teman-temannya di kampung. Tiga perempat penampangan bulan dan kerlip puluhan bintang menjadi kuas dan kanvas baginya untuk melukiskan kerinduan pada kampung halaman.

”Sabar aja Mbah, orang rumah juga pasti memaklumi. Lagian Mbah kan lagi meniti jalan sukses demi kebahagiaan mereka, jadi sabar aja Mbah..” bibirku dan otakku terasa kelu membongkar bendahara kata untuk kupilihkan demi menghiburnya. Tapi yang kudapat hanya kata-kata yang tak membuatnya lebih baik.

Mas bisa berkata gitu karena tiap minggu Mas bisa pulang ke rumah orangtua mas di Tangerang. Sedangkan saya, hanya setahun sekali punya kesempatan untuk pulang, itupun tanpa membawa bekal yang banyak ke rumah, mas tahukan berapa gaji seorang operator karcis pembayaran tol?” kali ini ia menatap plafon beranda kost. Dua ekor cecak yang tengah berpesta menyantap nyamuk hanya menambah kepiluan di hatinya. Retina matanya semakin tebal dipenuh krisatal bening yang tertampung pelupuk mata. Sekuat tenaga ia menguatkan tanggul matanya agar air bah tak menerpa dari matanya.

”Mhhmm…..” sebuah tarikan napas panjang cukup ampuh menenangkan dirinya.

”Mas, Bulan puasa ini saya seringkali merasa sedih dengan keadaan. Saat orang lain berbuka puasa bersama keluarga di rumah, saya hanya sempat meneguk segelas air dan panganan ringan di pos jaga, itupun dengan tetap sibuk melayani pelintas tol yang padat. Malamnya lebih memilukan lagi, ramadhan yang mestinya dipakai beribadah, saya harus berusaha melawan kantuk agar tak dipecat dari pekerjaan. Untungnya, sahur lebih bisa leluasa, karena pelintas tol lebih lengangt. Sebenarnya beberap kali saya diberikan makanan berbuka puasa atau sahur oleh para pelintas, tapi tetap saja saya sedih mas..

Mbah, saya yakin bahwa tugas yang kalian lakukan akan dicatat oleh Allah sebagai nilai ibadah. Jadi gak usah sedih, lagian gak ada gunanya sedih, mendingan tersenyum dan menikmati Ramadhan ini. Gini aja Mbah.. klo iseng mo main, main aja ke rumah saya di Tangerang.”. lagi-lagi aku kehabisan kata untuk berbicara, getaran kepiluan di hatinya telah meresonansi ke diriku.

Terima kasih mas, sebenarnya perasaan ini hanya datang dan pergi, sebentar lagi setelah shalat maghrib juga pasti sedihnya hilang. Mas, tahu gak, bahwa ada 4 air mata kenikmatan yang Luar Biasa bagi saya dan perantau lainya. Pertama, Saya merasakan air mata perpisahan yang menimbulkan semangat yang luar biasa agar memenuhi harapan mereka di tanah rantau. Kedua, air mata kerinduan di tanah rantau yang membuat saya ingin segera menyampaikan hasil kesuksesan. Dan ketiga, air mata haru saat bertemu di kampung halaman.” Mbah Warsito kini menatapku dengan senyuman seindah taman di kerajaan rantau.

Satunya lagi apa Mbah??”

Kalau kita shalat maghrib sekarang, maka kita akan dapat air mata keempat ini. Yaitu air mata kebahagiaan saat bertemu dengan Allah di tempat yang mulia di samping-NYA kelak”.

Aku dan Warsito bergegas melaksanakan shalat Maghrib. Dalam doaku, kuselipkan sebongkah doa untuk Mama dan almarhum ayahku, saudara-saudaraku, dan khususnya teruntuk kakak laki-lakiku yang tengah merantau di Libya. Apa yang dirasakan Warsito tentunya juga dirasakan kakaku, itu tersirat dari kata-katanya saat chating denganku setiap hari dan telepon pada mamaku. Tapi seperti Warsito dan perantau lainnya, kakaku tetap tegar dan akan mendapatkan 4 airmata kenikmatan kelak.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About abdullatiefku

Check Also

Hidup Kreatif

HIDUP KREATIF       “Untuk menjadi kreatif, kita harus terbiasa untuk tidak terbiasa”–Yoris Sebastian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *