Breaking News
Home / Tulisan / Manajemen / Berubah atau Musnah

Berubah atau Musnah

Berubah atau Musnah

 

 

pondok-harmoni.com – Kalau bulan depan dinyatakan akan terjadi krisis ekonomi dahsyat yang melanda negara kita, bagaimana perasaan kita, dan  apa yang akan kita lakukan?

 

Untuk menjawab hal tersebut, aku menyitir sebuah cerita menarik yang disampaikan Bp.Octavianus Dwi, Operation Div.Head Astra Motor, saat Afternoon Break yang sore ini baru saja selesai.

 

Beliau bercerita tentang seorang Bapak Penjual Pizza yang sangat enak dan selalu penuh antusias melayani pelanggannya. Sang Bapak bahkan tak segan-segan memberikan ‘test food’ bagi pengunjung baru ke tempatnya, atau jika ada menu yang baru.

 

Dengan usahanya ini, awalnya dia hanya memproduksi 25 pizza perhari yang semuanya ludes terjual, lalu dia naikkan produksi menjadi 50 pizza yang juga habis terjual. Hingga akhirnya terus menaikan kapasitas produksi menjadi 75 pizza, 100 pizza, 125 pizza, dan terus hingga akhirnya rutin habis di angka 200 pizza perhari.

 

Selama bertahun-tahun, jualannya bertahan diangka rata-rata 200 keping pizza perhari, sampai ia sukses menyekolahkan anaknya ke sebuah universitas ternama dunia, lulus sebagai master ekonomi dan bisnis.

 

Sepulang dari berkuliah di luar negeri, sang anak membawa kabar melalui analisa mendalam para pakar ekonomi, bahwa tahun depan Mata uang euro yang digunakan di negaranya akan mengalami tekanan kuat. Negaranya akan dilanda inflasi dan krisis ekonomi yang akan menghantam semua sektor industri, bahkan krisis juga akan merambat ke seluruh negara di Eropa, Amerika, bahkan Asia dan Afrika. Krisis global akan datang.

 

Karena sangat mempercayai analisa para pakar dan kabar dari anaknya yang dianggap sebagai ahli ekonomi, maka sang Bapak berinisiatif untuk beradaptasi dengan kondisi, ia mengurangi produksi pizzanya dari 200 menjadi 150 pizza.

 

Karena terlampau khawatir menghadapi krisis, Sang bapak terlihat kurang antusias melayani pelanggan, dan tidak menciptakan strategi baru untuk pizzanya. Walhasil 150 pizzanya selalu sisa, tak pernah habis.

 

“Benar rupanya, krisis telah datang.. Bahkan datang lebih awal…”. Ujar sang bapak yang makin khawatir dan hanya menproduksi 100 keping pizza dengan tidak antusias. 100 pizza inipun akhirnya selalu tidak habis. Karena khawatir semakin rugi, ia kemudian terus mengurangi produksinya menjadi 75 pizza, 50 pizza, 25 pizza, hingga akhirnya bangkrut… “Anakku benar, krisis telah datang, dan aku telah terkena krisis ini tanpa bisa bertahan…”.

 

***

 

Bagaimana pendapat Anda tentang perilaku sang Bapak?

 

Sesuai anekdot tentang para ilmuan dan motivator, Kalau dihadirkan 10 orang pakar untuk menjawab hal ini, pasti akan muncul minimal 12 pendapat yang berbeda, dan akan semakin bingung harus bagaimana?!. Tapi kalau ditanya pada para motivator, jawabannya hanya satu, “Tetap Optimis, Kita pasti bisa..!!!” Ha.. Ha…

 

Bagiku, langkah pertama memang kita harus optimis. “Ayo tetap semangat, kita pasti bisa…!!” Sisanya, barulah kita ikuti para pakar untuk menyelesaikan solusinya.

 

setuju atau tidak, kita harus tetap mengakui bahwa sukses selalu datang pada mereka yang selalu optimis dan berusaha maksimal di semua kondisi.

 

Orang pesimis selalu melihat rintangan di setiap peluang, tapi Orang optimis selalu melihat Peluang kendati itu sebuah rintangan. Saat makan ikan misalnya, orang pesimis selalu risih dengan bau amis dan tulangnya, sedangkan orang optimis fokus pada daging dan gizi yang terkandung di dalamnya.

 

Bisnis sepeda motor saat ini misalnya. Kebijakan pemerintah mewajibkan DP (down payment \ uang muka) kredit sepeda motor minimal 25%. Padahal, 80% konsumen kredit sepeda motor membayar DP di bawah 25%. Artinya, bisnis sepeda motor, akan menghadapi tantangan yang serius. Tapi kita harus yakin, setiap tantangan ada solusi yang jitu untuk menyelesaikannya.

 

Tak semua orang berhasil menghadapi tantangan, terutama dalam dunia bisnis yang selalu dinamis dan kompetitif. Bahkan banyak perusahaan besar yang hancur atau tengah menghadapi kehancuran.

 

Pernah dengar nama “KODAK”? KODAK adalah merk legendaris penghasil kamera foto film. Saking terkenalnya, hingga masyarakat menyebut Kamera foto dengan nama KODAK. Lantas kemana KODAK sekarang? Tahun 2012 kodak akan mengumumkan kebangkrutannya.

 

Siapa yang tak kenal SONY? Merk legendaris penghasil kamera video, alat-alat digital, intertainment gadget, dan alat lainnya. Di tahun ini, kejayaannya diuji, SONY tengah mengajukan suntikan modal dari perusahaan di Taiwan.

 

Ingat Handphone ‘sejuta umat’? Ya NOKIA, penghasil alat ‘connecting people’ ini sempat merajai industri Hanpdhone di Indonesia dan dunia. Bagaimana kabar NOKIA sekarang? Kedigdayaannya juga tengah diuji. Ribuan karyawannya telah dirumahkan demi alasan bertahan hidup.

 

Atau barangkali Anda masih akrab dengan nama Motorolla dan Ericson? Atau pernah juga bermain di Friendster? Masih banyak memang, nama besar yang sempat berjaya namun kini tinggal nama atau calon menjadi penghuni sejarah.

 

Atau jangan-jangan blackberry yang sekarang tengah kugunakan untuk menulis artikel ini akan segera tergantikan dan bangkrut? Masih sering berselancar di facebook? Pun Facebook, mungkin akan menjadi sebuah sejarah.

 

Sukses MASA LALU memang TIDAK SAMA dengan sukses MASA DEPAN. Untuk itu, bagi kita yang berada di masa kini, wajib bagi kita menyikapi kondisi dengan 3 hal. Pertama, Competition. Hanya mereka yang sanggup menghadapi kompetisi yang semakin ketat, cepat dan buaslah  yang akan selalu sukses. Kedua, Comfortzone. Nyaman harus dirasakan semua orang, tapi harus hati-hati dengan kenyamanan yang melenakan dan menggagalkan. Ketiga, Arrogance. Kesombongan pangkal kehancuran, itu pasti.

 

Selain 3 syarat utama itu, kita juga tak boleh lengah, karena perubahan dunia memang sedemikian cepat, bahwa mereka yang berubah dengan cepatlah yang akan dapat selalu bertahan. Sebagaimana tuturan pakar manajemen. Petter F Drucker “the only sign of LIFE is GROWTH, the Only sign of GROWTH is CHANGE, and the Only Sign of CHANGE is SPEED”.

 

Optimis dan berubah saja tidak cukup. Misalnya, Atlet Badminthon kita memang berubah, tapi perubahan negara lain lebih cepat dari perubahan kita, akhirnya kita dipercundangi di perempat final. Jadi, selain optimis dan berubah, kita juga harus cepat, atau FAST.

 

FAST, dapat juga kita artikan “Flexibility, Adaptability, Strategi, Team synergy”. Dengan FAST, diharapkan kita akan dapat memenangkan kompetisi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

 

Lalu, saat krisis datang, siapkah kita menghadapinya?

 

“Optimis, pasti bisa…!!.”

***

@Bus Primajasa Jurusan Tj.Priuk-Rangkas Bitung. 31 Mei 2012.

Oleh Abdul Latief, WTS

WTS: Writer Trainer Speaker. Penulis telah menerbitkan beberapa buku dan aktif di pengembangan sumber daya manusia, training public speaking, leadership, managemen, motivasi, dan beragam program lainnya bagi termasuk menyemai pengembangan para pelajar dan mahasiswa di Banten dengan program Early Leadership dan Early Motivaton.

follow twitter: @pondok_harmoni

Instragram : @abdullatiefku & @harmonydailyquotes

Email : pondok.harmoni@gmail.com

About abdullatiefku

Check Also

Bersama Lebih Maksimal

Bersama Lebih Maksimal   pondok-harmoni.com – Siang tadi semua karyawan yang keluar dari ruang serbaguna …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *