Breaking News
Home / Tulisan / Spiritual / Celanaku Kendor Neh…!

Celanaku Kendor Neh…!

Celanaku Kendor Neh…!

Jakarta, 4 September 2008

Oleh Abdul latief

“Kalau bulan puasa gini, mesjid rame ya..?” tanya Donny saat kami berangkat menuju mesjid yang terletak di depan kantor.

Ya iyalah, namanya juga Ramadhan, zuhur begini pasti banyak yang tidur di mesjid” sambut Mas Irfan menimpali.

Tapi di mesjid rumah saya ramenya cuma tarawih aja, itupun jumlahnya makin terus berkurang dibanding hari pertama tarawih” tutur Donny tak Puas.

Gimana kamu ini Don..!?  kalau di rumah, mereka lebih baik tidur di  rumah ketimbang tidur di mesjid, lagian di mesjid kita inikan tiap zuhur ada acara kajian Zuhur, kemarin yang ngisi Ketua MUI, KH. Kholil Ridwan, kali ini kalau gak salah giliran Ust.Reza M syarif, jadi pasti banyak orang yang datang untuk dengar ceramah ataupun tidur.” kali ini Mas Anton tak sabar untuk menimpali.

Trus, kamu ke abis shalat di mesjid mau tidur atau dengar ceramah?”.

 

Mhmhm… kita lihat aja nanti..!!” jawab Donny sambil tersenyum nakal dan menaikan celananya yang melorot ke posisi pinggangnya semula.

Aku hanya bisa tersenyum sendiri mendengar perbincangan rekan-rekanku selama perjalanan menuju mesjid. Adzan zuhur belum berkumandang, tapi di sekitar kami sudah terlihat beberapa gerombolan karyawan yang juga bergegas menuju mesjid. ”Wah semangat sekali orang-orang itu, andaikan Ramadhan terus ada, para malaikat pastinya sangat sibuk mencatat amal kebaikan umat Islam. Semoga saja langkah cepat mereka bukan lantaran tergesa ingin segera terpulas di dalam mesjid…” gumamku dalam hati sambil menguap lebar menahan kantuk yang sudah mendera sejak 10 menit yang lalu.

Sesampainya di mesjid, kami menanggalkan sepatu sambil termenung sejenak, entah apa yang kami renungkan saat itu, yang jelas azan belum berkumandang, keran-keran air mengalir deras dengan beberapa antrian di belakangnya. Sesekali kuamati jamaah di sekeliling, beberapa dari mereka membenahi posisi celana ke pinggang karena melorot, begitu juga denganku dan Donny yang melakukan hal yang sama.

***

Kajian zuhur kali ini cukup menarik walaupun tidak seistimewa bayanganku sebelumnya, ”Bagaimana Menjadi Muslim Professional” itulah tema yang diangkat H.Reza M Syarif kali ini. Persis seperti yang selalu didengungkan dosenku saat kuliah dulu, Beliau mengutarakan bahwa menjadi muslim Professional harus memiliki 4K sebagai syarat utama yaitu  ”Kompetensi, Komitmen, Konsistensi dan Konsekuen”. Tapi yang paling aku ingat adalah Joke-nya bahwa ”Kalau mau menikah dengan biaya yang lebih murah, sebaiknya resepsi diadakan di siang hari bulan Ramadhan, jadi bisa mengurangi biaya makanan..” Joke ini mengingatkan aku akan beberapa rekan yang awalnya pusing memikirkan biaya nikah tapi akhirnya bisa lancar dengan berkah dari Allah.

Jamaah satu persatu bergegas meninggalkan mesjid untuk kembali bekerja, para jamaah yang tertidur secara otomatis terbangun tanpa harus di komando, begitu juga dengan ketiga rekanku secara otomatis terhenyak dari buaian mimpi di siang ini. Mas Irfan langsung tersenyum padaku, Mas Anton melototkan mata kelangit-langit yang semakin menampakkan merah matanya, sedangkan Donny mengucek-ucek matanya lalu memandang ke depan dengan tatapan kosong. Aku hanya bisa tersenyum menatap mereka, sambil menguap lebar tanda kemenangan atas kantuk yang berhasil kutahan siang ini walaupun sempat sejenak tertidur.

Kini, kami beranjak menuju kantor dengan kepala dan hati yang lebih segar, di gerbang mesjid donny kembali membenahi posisi celananya ke pinggang.

Kenapa Don, merosot terus celanamu?” tanya Mas Irfan dengan senyum khas yang tertutupi kumis tebalnya.

Iya Mas, celanaku kendor neh..! mungkin udah kempis karena lapar kali ya..?!!” jawabnya tersipu.

Bukan cuma kamu Don, tuh si Latief dan orang-orang itu juga sama…!” Mas Anton ikut kembali menimpali.

Aku memang tengah membenahi celanaku yang melorot di bawah pinggang, sambil berjalan kembali ke kantor aku teringat pengemis di pinggir kali sunter, para bocah pengamen di Metro Mini dan para gelandangan di kota ini yang celananya selalu kendor. Tidak hanya di bulan puasa ini celana mereka kendor, tapi sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang tahun bahkan sepanjang umur celana mereka kendor. Celana mereka akan terus kendur selama kita tidak membuat celana mereka muat di pinggang mereka.

Aku jadi teringat perkataan perkataan Ustadz,  kemarin saat kajian Ramadhan setelah zuhur. ”Seorang Muslim belum dikatakan beriman, jika tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya selalu terjaga karena lapar”. Semoga aku bukan tergolong dalam mereka yang acuh pada sesama

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About abdullatiefku

Check Also

Memecah Kebekuan Hati

Memecah Kebekuan Hati Jakarta, 27 Maret 2008 Oleh Abdul Latief “Hattrick….!” teriakku pagi ini. Tiga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *