Breaking News
Home / Tulisan / Seni Kehidupan / Energi Itu Berupa Cinta Anak dan Keluarga

Energi Itu Berupa Cinta Anak dan Keluarga

Oleh  : Mochamad Husni

 

Bila ada yang masih berpikir bahwa anak identik dengan beban hidup sehingga mereka terlalu menimbang-nimbang keputusan untuk menikah dan berkeluarga, segeralah melahap tulisan ini hingga titik terakhir. Ajaib sekali. Ternyata sosok anak lebih dari sekadar titipan yang harus kita jaga dan didik. Secara fisik, mungkin memang tangan kokoh kita  yang merengkuh telapak mungil para buah hati hingga mereka menemukan jalannya sendiri. Tapi secara spiritual, justru anak-anaklah yang seringkali menuntun langkah kaki kita sebagai orang tua sehingga impian yang semula tampak mustahil tiba-tiba menjadi kenyataan. Kuncinya: cintailah anak-anak dan keluarga dengan setulus hati.

Seperti kisah nyata berikut ini. Pengalaman seorang pekerja yang terkejut-kejut ketika ia mendapatkan sesuatu. Sungguh terkejut mengingat nilai rupiah benda tersebut sangat besar bagi dirinya yang hanya seorang pegawai biasa.

Pekerja yang saya maksud dalam cerita ini adalah seorang karyawan dari anak perusahaan Astra International. Suatu hari, lelaki yang sehari-hari bekerja di bagian mixing rupa-rupa bahan dasar untuk diolah menjadi ban ini mengajak keluarganya rekreasi ke tempat wisata. Di dalam event itu ada games-games yang melibatkan bapak, ibu dan anak-anak dalam satu keluarga. Setelah semua permainan mereka tuntaskan, mereka pun pulang. Keesokan harinya, datanglah kejutan itu. Namanya ternyata keluar sebagai peraih doorprize utama berupa satu unit rumah di perumahan Harvest City, perumahan yang direncanakan menjadi kota dengar areal 1.050 hektare, di kawasan Cileungsi, Bogor.

Lelaki beruntung itu bernama Sarni, suami dari Siti Zulaekha. Dan event yang ia kunjungi adalah event Grup Astra yang berjudul “Jelajahi Dunia Astra”, berlokasi di taman wisata Mekarsari, 23-24 Oktober 2010.

Apakah doorprize satu unit rumah itu hanya kebetulan? Tidak adakah benang merah yang mengaitkan kejutan itu dengan kebaikan, cita-cita, mimpi sebelumnya serta cinta kepada anak dan istrinya?

Semula saya juga berpikir demikian. Namun dari pembicaraan saya dengan Sarni beserta istrinya justru menunjukkan kesimpulan lain. Ada kaitan yang begitu kuat antara rasa cinta keluarga dan garis hidup yang mereka lewati.

Hidup Sarni dan Siti Zulaekha juga tertata sedemikian rupa. Pelan-pelan semakin menanjak ke arah kebaikan. Semua gerak perbaikan itu tampak berpusat pada rasa cinta mereka kepada anak-anak. Entah untuk urusan kerja maupun urusan lainnya. Bila perusahaan memiliki “papan target” untuk memonitor key performance indicator, maka sosok anak bagi mereka seolah wujud target yang paling hidup dan kongkrit. Karena mencintai mereka dengan setulus-tulusnyalah energi seorang bapak atau ibu terus terpompa menjalani hari demi hari. Rasa letih gampang sirna, bila hati kecewa karena sebab-sebab di luar rumah pun tak akan pernah berlangsung lama setelah mereka berada di tengah keluarga.

Sebagai orang tua, mereka bertekad agar anak-anak dapat hidup lebih baik. Pendidikan, kasih sayang, lingkungan pun dipilih yang lebih baik demi menyiapkan anak-anak dalam menghadapi tantangan zamannya kelak. Efeknya, bekerja juga penuh semangat. Bahkan penuh prestasi. Berkali-kali Sarni dinominasikan sebagai karyawan teladan, dan satu kali menyabet trophy sebagai karyawan teladan.

Keputusan untuk mengunjungi acara “Jelajahi Dunia Astra” di Mekarsari tempo hari itu pun dalam rangka menyenangkan anak-anak dan keluarga. “Supaya mereka gembira,” kata Siti Zulaekha. Tidak sedikitpun terbersit keinginan merebut doorprize satu unit rumah. Sungguh, semata-mata demi menyenangkan anak.

“Tidak seperti biasa, anak-anak saya hari itu juga semangat banget,” cerita Sarni. Semangat anak-anak, menurut lelaki kelahiran tahun 1969 dan telah dikarunia 3 anak ini, menjadikan mereka tampak riang gembira mengikuti games-games dan permainan yang harus dituntaskan. “Padahal, biasanya anak-anak lesu kalau diajak jalan-jalan. Malahan sering minta cepat pulang,” lanjutnya.

Tidak hanya kelihatan menikmati. Bahkan, “Anak-anak tampak men-support,” kenang Siti Zulaekha. “Anak-anak juga kompak. Misalnya, waktu giliran saya yang harus main games, kakak tertua yang sudah kelas 3 SD dengan senang hati menjaga adik nomer dua. Bapak menggendong anak ketiga yang baru berumur setahun. Mereka teriak-teriak supaya saya berhasil,” lanjutnya lagi.

Kejadian-kejadian berikut semakin menguatkan rumus bahwa rasa cinta kepada anak membuahkan rejeki yang tidak diduga-duga.

Jauh sebelum dinyatakan sebagai penerima doorprize satu unit rumah, sebetulnya Sarni dan istrinya telah menancapkan impian untuk memiliki tempat tinggal yang lebih besar ketimbang yang telah mereka tempati. Saat itu, mereka memang sudah menempati rumah tipe 36 dengan luas tanah 90 meter. Pada akhir tahun 2008, kebetulan mereka mempunyai rejeki yang lumayan banyak. Maksud hati, mereka akan menginvestasikan uang-uang tersebut dalam bentuk rumah baru. Yang lebih luas dan bagus.

Maka, dilakukanlah survey. Sampai di sebuah perumahan, mereka sangat tertarik dan ingin membeli salah satu unit rumah di situ. Namun, setelah mempertimbangkan beberapa hal, rumah yang mereka impikan batal mereka beli. “Terlalu mahal. Rumah yang paling murah saja harganya waktu itu sekitar Rp 100 jutaan,” kata Siti Zulaekha. Akhirnya, uang itu dibelikan sebuah mobil Daihatsu Xenia.

Lagi-lagi, keputusan di balik pengalihan rencana membeli rumah menjadi membeli mobil adalah karena rasa cinta kepada anak. Bertepatan dengan adanya rejeki itu, pada September 2009 Sarni dan istri dikarunia anak ketiga. Sebagian uangnya harus dialokasikan untuk menyambut sang bayi. Karena jumlah anggota keluarga bertambah menjadi 5, Sarni merasa alat transportasi yang baru dia punya berupa sepeda motor sudah tidak mencukupi lagi. Daihatsu Xenia itulah jawabannya. Dia beli di bulan April 2010 dengan memanfaatkan uang yang tersisa sebagai down payment.

“Rasanya, saya beli mobil untuk anak koq malah plus dapat rejeki rumah,” kata Siti Zulaekha takjub setelah menghubung-hubungkan rentetan peristiwa itu.

Ajaib, karena memang ada kaitan sangat kuat antara mobil dan hadiah rumah dari event Grup Astra itu. Syarat utama yang harus dimiliki pengunjung Jelajahi Dunia Astra untuk berhak mengikuti games dan dapat undian doorprize rumah adalah memiliki mobil yang dibeli di jaringan Astra International. Sarni memang membeli mobil di jaringan Astra International.

Apakah Anda masih mengira bahwa rentetan peristiwa ini adalah kebetulan?

Saya sangat yakin ini bukanlah semata-mata kejadian yang berjalan tanpa aturan. Tapi perpaduan yang sangat kompleks antara niat, tujuan, rasa dan tangan Tuhan. Energi yang memadukan unsur-unsur tadi menjadi kenyataan salah satunya adalah rasa cinta kepada anak dan keluarga.

Asal tahu saja, ada satu fakta lagi yang tidak kalah mengejutkan. Perumahan yang dulu mereka survey dan terpaksa pembeliannya mereka urungkan tatkala melihat harganya yang mahal adalah perumahan yang sama persis dengan perumahan yang kini menjadi haknya: Harvest City.

Melihat pengalaman keluarga Sarni, saya sendiri berdecak kagum dan semakin ingin mencintai anak-anak dan keluarga saya. Karena benar-benar ada kekuatan yang menuntun langkah kita di balik kecintaan itu. Terbukti, impian mulia dari pasangan bernama Sarni dan Siti Zulaekha yang dulu sempat tak terealisir, diam-diam tetap tercatat. Ia terkabul pada waktu yang tepat.

Oleh  : Mochamad Husni

About Admin

Check Also

Hidup Kreatif

HIDUP KREATIF       “Untuk menjadi kreatif, kita harus terbiasa untuk tidak terbiasa”–Yoris Sebastian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *