Breaking News
Home / Tulisan / Motivasi / Harapan Bundo

Harapan Bundo

Harapan Bundo

Pontianak, 22 Juli 2008 @ Hotel Santika.

Oleh Abdul Latief

Guyuran Hujan mengiringi rangkaian dinasku di Kota Katulistiwa ini. Sejak menapakan kaki di Bandara, guyuran hujan menyambut kami di pintu pesawat, tak ayal cuaca sejuk sesekali membalut dingin menusuk kulit. Segar juga merasakan cuaca khas negara tropis Indonesia. Ini pulalah yang membuat negara kita tak pernah bebas dari jamahan tangan rakus manusia yang ingin menguasai eksotika dan kekayaan negara yang bak surga dunia ini.

Sedih juga memikirkan nasib bangsa ini, sejak nenek moyang, susah sekali menikmati kekayaan yang dikandung negeri ini, silih berganti para penjajah menduduki dan mengeksploitasi kekayaan di dalamnya. Tak hanya penjajah asing, pribumipun seringkali menjadi penjajah yang lebih kejam dan rakus. Inilah realita negeri yang kusayang namun bernasib malang.

”Biarlah negeriku merasakan cobaan ini, dengan begitu semoga kita segera tersadarkan untuk bangkit dan merubah diri segera” kuakhiri lamunan sore ini, seiring dengan berakhirnya sesi Training di hari pertama ini.

Menghabiskan waktu seharian di ruang training membuat tubuh terasa lelah dan ingin segera melepaskan ketegangan saraf yang mendera. Guyuran shower hangat, basuhan air wudhu, dan kesejukan shalat Maghrib cukup ampuh mengobati efek hari ini. ”Thanks God, you gave me everything today” kututup doa dengan meyentuhkan kening dan mukaku tersungkur sujud di bumi-Nya.

”Semua yang diberikan Tuhan tak ada yang sia-sia, hanya saja kita yang kurang bersyukur atas limpahan nikmat yang diberikan Nya. Bahkan helai daun tua yang gugur dari rantingnya, tak lekang dari limpahan hikmat yang bermanfaat bagi kita. Paling tidak daun itu bisa menjadi sumber rezeki bagi para petugas kebersihan pemda yang setiap pagi membersihkan jalanan dari limpahan daun gugur. Kalaupun tidak, daun itu bisa menjadi perlambang bahwa suatu saat hidup kita akan berakhir sama seperti jatuhnya helai daun dari pohonnya” tak habis-habisnya aku merenung di hari ini, mungkin mendungnya langit pontianak ikut membawa gumpalan lamun di benakku.

Papan nama di kios kecil bertuliskan ”Toko Oleh-oleh Khas Pontianak, Pak Botak” mengakhiri lamunanku malam ini. Kini tiba waktunya bagiku untuk membeli beberapa panganan khas pontianak untuk dijadikan buah tangan sanak kerabat dan teman di Jakarta sana.

 

***

 

Selepas membeli oleh-oleh, kami bergegas mencari makan malam di sekitar hotel tempat kami menginap, beragam rumah makan dengan menu andalannya sudah siap untuk kami kunjungi, tapi entah mengapa aku dan Pak Prast — atasanku — sepakat memutuskan untuk makan di Restoran Padang Harapan Bundo, yang letaknya tepat di sudut persimpangan jalan yang strategis.

Rumah makan ini cukup ramai, ”Pasti makanannya lezat dan bersih..” gumamku sambil mengidamkan gulai kikil dan ikan kakap goreng. Makan malam serasa di pemakaman jika tak dihiasi obrolan bermakna malam ini. ”Pak apa resepnya bisa bertahan selama 22 tahun bekerja di perusahaan ini?” pertanyaan pembuka ini mengawali obrolan panjang kami selama hampir satu jam makan malam dan berbincang hangat. Obrolan terus berlanjut sampai akhirnya tiba pada obrolan pamungkas.

Tif, begitulah pekerjaan yang kita jalani, dimanapun kerjanya, apapun posisinya, selalu saja mendatangkan banyak tantangan dan pengalaman yang baru bagi setiap orang yang mengalaminya. Sayangnya, tak semua orang mampu menghadapi konflik yang dihadapinya, padahal semua itulah yang akan mematangkan jiwa kita dan membuat kita lebih dewasa menjalani hidup. Semua itu bagian dari hikmah hidup” dengan mata berbinar dan wajah sumringah aku mendengar kata demi kata yang terlontar dari mulut atasanku sambil menikmati hidangan makan malam yang terasa makin nikmat dengan obrolan ini.

Hidup, selalu berputar seperti roda pedati. Sesekali kita merasakan senang namun tak jarang kita didera kesedihan. Kita boleh saja merasakan susah saat ini, tapi yakinlah bahwa tak selamanya kesusahan itu bersama kita, sebab kemudahan dan kesenangan sudah menjelang datang pada kita, tapi syaratnya hanya satu.. kita harus sabar-syukur-usaha dengan jujur. Kamu tidak mau selamanya hidup susah bukan? Begitupun Tuhan Yang menciptakan kita, tak akan rela membiarkan hamba-Nya hidup susah. Tapi Tuhan butuh bukti kesungguhan kita dalam melalui cobaan yang diberikan untuk kita” lanjut Pak Prast terus melontarkan taburan hikmah di malam ini bak sinar rembulan yang tak segan-segan menyembulkan cahayanya menembus gumpalan awan yang berusaha menutupi keindahannya di langit Pontianak. Sedangkan aku masih asyik membagi konsentrasi antara gulai kikil, ikan kakap goreng dengan potongan hikmah sarat makna.

Tapi Pak, jiwa muda seperti saya penuh dengan gejolak dan sarat dengan ambisi berpetualang. Apa yang tidak sesuai harus dilawan, yang mengganjal harus dilontarkan, kalaupun tidak bisa merubah apa-apa.. ya… cari saja lahan perjuangan baru yang kita bisa eksis di dalamnya…?!” tanyaku penuh penasaran dengan perbincangan mengenai problematika hidup dan dunia kerja.

”Kamu yakin bahwa di tempat lain kamu tidak akan mendapatkan hal yang sama? Setiap tempat, setiap waktu, dan setiap fase hidup selalu dipenuhi dengan cobaan dan ujian hidup yang sama. Kalau kamu belum bisa lulus di ujian ini, jangan harap kamu bisa sukses menjalaninya di tempat lain. Sebab ujiannya akan sama, hanya bentuknya saja yang berbeda. Dan kamu tak bisa lolos ke ujian kedua sebelum kami lolos di ujian tingkat yang pertama. Ingat tif… hidup ini adalah ujian, tapi dengan ujian itulah kita bisa semakin dewasa dan menjadi pribadi yang matang

”Tif… saya sudah hampir melalui segala cobaan itu, kelak suatu saat nanti kamu akan menyaksikan hal yang lebih kompleks dari ini, tapi saat kamu sudah tangguh menghadapinya, kamu hanya akan memandang semuanya dengan perasaan tenang dan tanpa beban yang menyesakan dada”

Sekarang atau nanti, pasti kamu akan temukan orang yang kalang kabut mempertahankan posisinya dan selalu merasa terancam akan terdepak. Ada juga yang ambisius memnghalalkan segala cara demi nafsunya, tak jarang para penjilat dan pencari muka menggadaikan harga dirinya demi sesuatu yang lebih murah dari apa yang mereka gadaikan itu.. atau banyak lagi jenis cobaan hidup kamu akan hadapi di dunia kerja dan dunia nyata ini.. kalau kamu sabar-syukur-usaha yang jujur, maka kamu menjadi manusia yang baik dan berharga. Percayalah…” Pak Prast mengakhiri jawabannya dengan penuh harap bahwa aku menjadi manusia sesuai harapannya dan meraih yang lebih baik dari apa yang telah dicapainya saat ini. Tatapan beliau padaku seperti membangkitkan labirin kenangan bersama ayahku yang selalu menanamkan optimisme hidup dan jiwa pantang menyerah. Tatapan dan ucapan ayahku selalu menyiratkan 3 hal Syukur-Jujur-Tekun.

”Tambo Cie da… nasi pake kuah dan sayur pakis…” seruku pada pelayan restoran sambil tetap fokus mengisi perut dengan makanan dan mengisi hati dengan bumbu hikmah.

”Bercita cita bolehkan pak…” tanyaku lagi sambil menuangkan nasi tambahan ke piring.

”Ambisi boleh, tapi jangan ambisius…!” jawab atasanku singkat.

”Maksudnya Pak ?” tanyaku sambil sejenak menghentikan kunyah mulutku, untuk menyiratkan dahagaku akan jawaban yang lebih clear.

Punya harapan itu harus, bercita-cita itu penting, keinginan juga membuat hidup lebih bersemangat, tapi janganlah kamu terlalu memaksakan diri untuk mencapai apa yang tidak bisa kamu raih. Atau menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan dan nafsu dirimu. Jangan juga mengorbankan orang lain demi kepentingan dirimu sendiri, terlebih jika harus mengorbankan orang banyak. Jelas bukan?

”Benar sekali pak, itulah yang mestinya dilakukan oleh semua orang, tapi sayangnya tak semua orang sadar dan mampu menjalaninya, semoga saja saya bisa ya pak..” kuakhiri perbincangan ini dengan menelan sisa makan terakhir di mulutku sambil berujar ”Alhamdulillahi Rabbi Al Alamiin…”

Kukembali ke kamar hotel dengan sebuah harapan dan visi yang baru dalam menjalani hidup. Apa yang kudapati di Harapan Bundo semoga bisa kuraih seseuai dengan harapan orangtua dan orang yang kukasihi terhadapku dan sesuai dengan jalan yang ditentukan oleh-NYA untuku.

— Harapan Bundo, tempat penuh harapan –

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About Admin

Check Also

Katak Tuli

Katak Tuli     pondok-harmoni.com – Sebulan yang lalu, entah mengapa aku rindu pada Profesor …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *