Breaking News
Home / Tulisan / Manajemen / Hukumnya ENAK..!

Hukumnya ENAK..!

Hukumnya ENAK..!

 

Toko yang menjual suami, baru saja dibuka di sebuah kota. Di sana, wanita dapat memilih suami.

Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.

“Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI”

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami.

Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko.

Lalu, seorang wanita pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari suami.

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :

 

Lantai 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan Wanita itu tersenyum,

Kemudian dia naik ke lantai selanjutnya, Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 2 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,dan senang anak kecil

Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya. Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 3 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,senang anak kecil dan cakep banget.

” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan  Lantai 4 :

Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.

‘Ya ampun !” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya”

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil,cakep banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini.Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk Anda yang tidak pernah puas.

 

Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.

Anekdot ini adalah kiriman seorang teman ke emailku beberapa waktu yang lalu, aku hanya memforward apa adanya. Kalau Anda berniat untuk mengganti judulnya dengan ”Toko Istri” dengan tokoh utama seorang laki-lakipun silahkan saja.

Anekdot di atas adalah sindiran untuk kita semua, tentang potensi tamak yang ada pada diri kita. Bisa jadi ketika baca anekdot itu kita akan berujar, ”Kalau aku sich pada lantai ke-3 atau ke-4 cukuplah, tak akan tamak seperti wanita itu…”. sikap seperti ini memang sudah seharusnya, namun kalau kita dihadapkan pada situasi sesungguhnya, apakah masih bisa melawan ketamakan kita?

Setiap manusia pasti punya impian untuk sukses, sehingga dengan seluruh jerih payah dan kerja kerasnya bertekad meraih kesuksesan, namun batas sukses apa yang lantas membuatnya puas? Ukurannya sangat absurd. Bahkan bisa jadi di tengah perjalanannya, malah menggadaikan idealisme demi mengejar ketamakan.

Aku pernah iseng bertanya pada seorang dosen, ”Pak, kenapa banyak orang yang selingkuh, korupsi, atau berbuat jahat?”.

Dosenku menjawabnya enteng ”Karena nafsu tak punya Otak..!”.

Masih jelas di benak kita berapa banyak pejabat yang korupsi, atau selingkuh lalu mengelak dengan dalih sederhana. ”Saya sudah kaya kok.. jadi tak ada alasan saya korupsi..?” atau ”saya tidak mungkin selingkuh dengan wanita seperti itu, Anda tahu kan istri saya itu sangat cantik bahkan lebih cantik dari wanita yang Anda tuduhkan selingkuh dengan saya.”. Mendengar alasan sederhana seperti itu, apakah lantas kita akan langsung percaya? Lagi-lagi Nafsu itu tak Berotak..!

Orang yang tenggelam dalam kubangan nafsu sebenarnya mereka telah kehilangan akal sehatnya. Karena tak lagi dapat mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Gawatnya lagi, mereka rela mati-matian mempertahakan kesalahannya dan memutarbalikan fakta dengan kepentingan pribadinya. seperti halnya cermin yang masih bersih, jika terbersit setitik noda, maka akan jelas antara kejernihan dan noda, namun jika terlampu malas kita membersihkan cermin, noda-noda kita tetap pertahankan berkumpul dan berkerak, maka cermin yang bening itu menjadi barang rongsokan yang tak lagi memantulkan kebenaran.

Seorang teman lulusan Fakultas Syariah Islam Universitas Al Azhar Mesir, Fresh Graduate. Baru saja bergabung sebagai staf di salah satu Lembaga Pengadilan Agama. Pada suatu kesempatan ia pernah bertanya tentang fenomena di lembaganya dan lembaga pemerintah pada umumnya.

Tif, di tempatku dan dinas pemerintahan lainnya, kami sering diundang seminar atau pelatihan, dan setiap kali pulang pelatihan kami selalu mendapatkan amplop berisi uang. Misalnya klo seminar sehari saja kami bisa dapat minimal Rp.250.000,- kalau dua hari atau tiga hari tinggal dikalikan saja. Itu hukumnya apa ya? Padahal kita ikut training atau seminar itu memang untuk kemajuan kita sendiri, itupun ternyata banyak yang hanya ikut absen dan terima uangnya saja, seminarnya mereka gak ikut. Dan bukankah jam kerja yang kita pakai adalah jam kerja biasa, tak ada lembur atau apapun. Jadi hukumnya apa ya?”. temanku bertanya dengan penuh antusias, tergambar di wajahnya sedang terjadi perang dahsyat antara idealisme dan pragmatisme.

hukumnya? Menurut ane Hukumnya Enak… ha.. ha..” jawabku ringan penuh kepastian.

Lho.. ente ini gimana sich..? diajak serius malah becanda mulu.. serius donk.. jadi hukumnya apa? Trus gimana di kantormu yang swasta seperti apa tif? ” temanku terus mendesak penuh rasa gemas.

Ane juga serius, gak lihat apa pipi ane jadi gemuk gini gara-gara terlalu serius memikirkan jawaban buat ente.” Jawabku sambil menggelembungkan pipiku yang chubby menggemaskan ini.

Begini Edi…” lanjutku lagi. “Ane bukan ahli hukum agama, malah sebenarnya ente sebagai pakar hukum agama lulusan Al Azhar Mesir lagi, ente mestinya bisa menjawab hukum itu. Tapi satu keyakinan ane, bahwa kalau ente bekerja di situ satu atau dua tahun saja dan terus konsisten menerima uang seperti itu maka tak akan lagi ente mempertanyakan hukum uang itu. Bahkan jika ada yang menganggap uang itu tidak pantas, maka dengan segala keahlian dan kepandaian ente dalam menguasai hukum Islam, ente akan cari pembenaran atas hukum halal dari uang itu. Maka hukumnya tidak lagi halal atau haram tapi wajib ente terima karena HUKUMNYA ENAK.”

Temanku hanya terpaku mendengar jawabanku tentang ’hukum enak’, bibirnya yang agak keriput menghitam dimakan usia, setengah menganga mengundang lalat hijau singgah di bibirnya, namun aku tetap mengoceh memberikan dalih hukum enak atas uang itu.

Edi, tahukah ente, bahwa kami yang bekerja di swasta, khususnya di kantorku, tak pernah menerima uang seperti itu setiap kali ikut pelatihan, seminar atau undangan lainnya. Bagi kami, hal tersebut masih di dalam jam kantor dan ibarat berpindah tempat kerja saja. Kalaupun harus hadir di hari libur, maka hanya diganti sesuai jam kerja yang terpakai. Bahkan kami merasa bahwa training atau pengembangan lainnya sangat berguna buat kami pribadi, tak dibayarpun tak masalah, kami rela hadir demi kemajuan pribadi.”

Tahukah juga, bahwa keuntungan perusahaan hasil kerja keras kami dan setiap kami membuka slip gaji bulanan, di sana tertera potongan pajak yang jumlahnya tak kecil. Bagi kami hal itu tidak masalah, asalkan lembaga negara yang hidup dari uang pajak kami itu beberja dengan sebaik-baiknya. Tapi nyatanya, banyak pegawai lembaga negara yang datang paling telat, pulang paling cepat itupun kerjanya tidak berorientasi prestasi, jauh dari konsep Service Excellent, tidak ontime, pokoknya semaunya aja..! terlepas dari waktu kerja yang ia korupsi, menurutku hal itupun hukumnya enak..!

Masih bertanya hukumnya apa? Lagi-lagi ane cuma bisa jawab HUKUMNYA ENAK…!”

Mungkin karena gajinya kurang besar?” Edi temanku masih mencari jawab dariku.

Edi, sebut angka yang kau minta untuk membayar pegawai di kantormu..! kalau dinaikan 100% gajinya apakah akan menghasilkan kinerja 100%? Kalau tidak, berarti itu perkara mentalitas. Seandainya dinaikan 1000% pun gajinya tak menjamin kinerja membaik. Bahkan diberi satu gunung emaspun tidaklah cukup memenuhi dahaga nafsu dan mentalitas yang bobrok. Tidak semua memang, tapi kalau atmosfer kerja di lingkunganmu buruk, maka orang yang tadinya idealis sepertimu akan terseret juga. Anggota dewan yang digaji untuk rapat saja, masih menagih tambahan amplop saat ada pansus, panja, dan panitia lainnya. Bahkan tak jarang ada yang korupsi? Jadi berapa lagi uang negara yang tersita untuk memenuhi dahaga nafsu??”. dengan sengaja aku langsung memutuskan pembicaraan dan beralih ketopik lain. Masih tersirat rasa tak puas di wajahnya, namun biarlah dia sendiri yang menentukan hukumnya. Bagiku tetap HUKUMnya ENAK, enak di dunia, entahlah di akhirat kelak..!

 

Semua harus berangkat dari hati tulus dan akal sehat, sebab nafsu itu tak punya otak..! dan nafsu tak akan pernah berhenti menggoda kita. Waspadalah..!.

 

Jakarta, 6 Februari 2009.

Oleh Abdul Latief

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About Admin

Check Also

Sel Perubahan Perilaku

Sel Perubahan Perilaku.   pondok-harmoni.com – Hari ini sangat sibuk sekali, senin yang sibuk diawali …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *