Breaking News
Home / Tulisan / Spiritual / Jajang dan Selembar Dosa

Jajang dan Selembar Dosa

Pekerjaan selalu mengandung dua efek. Sisi pertama adalah efek pekerjaan tersebut bagi alam sekitar, termasuk orang lain dan lingkungan. Kedua, seringkali orang tidak sadar dan melupakan bahwa setiap pekerjaan sesungguhnya akan selalu diiringi oleh catatan amal perbuatan: mungkin akan menjadi pahala atau sebaliknya, dosa. Berbeda dengan efek pertama yang sangat relatif, politis dan mungkin saja suatu saat akan dilupakan orang. Catatan amal di sisi efek kedua bersifat mutlak, adil, dan ia akan menjadi tabungan untuk kehidupan si pekerja di kemudian hari.

Persis seperti keseharian seorang Jajang. Setiap hari pegawai kontrak yang bertanggung jawab atas kebersihan halaman parkir kantor saya ini menyapu areal yang luasnya sekitar 800 m2. Lelaki muda asli Tasikmalaya, Jawa Barat, itu mengumpulkan serakan daun-daun dari pepohonan besar yang tumbuh di sana. Karena sapuannya, halaman kantor menjadi bersih. 

Tapi, apa yang tampak kemudian? Rupanya, satu persatu dedaunan yang tak kuat bertahan dari ranting pohon jatuh lagi. Saat matahari baru sepenggalan, halaman kantor sudah kembali penuh dengan daun-daun yang berserakan.

Begitu sangat cepat berubahnya  efek pekerjaan yang Jajang lakukan bagi alam sekitar. Tidak lebih dari 5 jam, semua bisa berganti keadaan. Dari kotor, menjadi bersih, kemudian kotor lagi. Orang lain, karyawan dan managemen kantor juga termasuk dalam kategori alam sekitar. Pendapat mereka tentang Jajang bisa juga bergeser-geser.  Hati karyawan kantor yang pagi hari melihat halaman kantor bersih mungkin akan merasa senang dan menilai Jajang sebagai pekerja yang rajin. Selang beberapa waktu kemudian, mungkin mereka sudah lupa dengan pekerjaan yang Jajang lakukan pagi sebelumnya, bahkan bisa saja mereka menjadi kesal dan justru menilai Jajang sebagai pekerja yang malas ketika melihat halaman kantor masih penuh dengan daun-daunan dan sampah teronggok di mana-mana.

Namun, inilah ungkapan-ungkapan yang paling menarik dari lelaki yang hanya tamatan Sekolah Dasar ini. Kata-katanya menusuk kesadaran. Ketika saya tanya pendapatnya tentang kemungkinan orang-orang yang salah dalam menilai dirinya, ia berkata, “Itu terserah mereka.” Menurutnya, setiap orang memang punya hak untuk menilai orang lain. Ia sama sekali tidak khawatir orang lain melupakan hasil kerjanya. “Karena, bagi saya kerja adalah ibadah. Tanggung jawab saya kepada yang di atas (Tuhan),” lanjutnya lagi.

“Terus,… bagaimana cara Jajang tetap semangat bekerja meskipun hasilnya cepat sekali hilang?” tanya saya suatu pagi saat ia sedang asyik menyapu. “Kalau saya lihat setiap hari, pagi-pagi kan Jajang sudah menyapu sampai bersih. Siangnya pasti sudah kotor lagi,” kata saya memperjelas apa yang menjadi poin pikiran saya.

“Saya menikmatinya saja,” jawab Jajang sambil tersenyum. “Lagi pula, bagi saya, setiap satu lembar daun yang jatuh itu ibarat dosa. Dosa-dosa yang belum hilang sebelum saya mengumpulkan dan membuangnya ke tempat sampah,” jawabnya dengan mantap. “Itulah pertanggungjawaban saya yang paling penting, karena untuk pekerjaan ini saya sudah diberi rejeki oleh-NYA,” sambung Jajang sambil menyebutkan bahwa setiap bulan ia mendapat gaji sebesar Rp 1,5 juta sebagai imbalan atas ayunan-ayunan gagang sapu yang membuat halaman kantor menjadi bersih. Untuk menjamin halaman terbebas dari tumpukan sampah, ia selalu menyapu lebih dari 1 kali. Kadang-kadang bisa sampai 5-6 kali dalam sehari. Dilihat maupun tidak dilihat orang lain ia akan menyapu.

Bekerja sebaik-baiknya tanpa perlu memikirkan penilaian orang lain memang terkesan agak naif. Terutama, bagi siapa saja yang paham dan menganut teori-teori office politics: bahwa dalam bekerja juga perlu cari muka, bersekutu, mendekat ke orang-orang yang dapat memuluskan pencapaian tujuan kita. Persekutuan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi orang lain dan bila perlu untuk menyerang orang-orang yang membahayakan posisi kita. Sikap orang seperti Jajang akan dianggap lugu dan polos oleh siapa saja yang tidak sanggup menghadirkan Tuhan dalam rutinitas pekerjaan sehari-hari, yaitu orang-orang yang tak sadar bahwa setiap pekerjaan juga mengandung sisi kedua: catatan amal perbuatan yang bisa berbentuk “pahala” bila Tuhan suka, atau sebaliknya “dosa” bila Tuhan justru murka.

Jajang, toh tetap survive. Ia sudah 5 tahun lebih bekerja di situ. Tubuhnya sehat. Belum lama ini ia bahkan menikah dan memboyong sang istri ke Jakarta. Mereka ngontrak dekat kantor. Jajang juga membuktikan bahwa rejeki itu memang sudah diatur. Tuhan tidak akan pernah salah alamat dalam mendistribusikan rejeki. Yang penting adalah menjalankan tugas karena tugas tersebut akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Saya tahu rejeki-rejeki lain itu karena beberapa teman dan juga managemen kantor seringkali menggunakan keahlian Jajang dalam urusan pijat-memijat. Entah karena sekadar masuk angin, pegal-pegal maupun keseleo.

Apakah Jajang tidak pernah kecewa? Benarkah bibirnya selalu mampu bersial-siul serta mendendangkan lagu tiap kali lengan kekarnya mengayun-ayunkan gagang sapu? Masak sih Jajang tidak pernah merasa sedih?

Tidak juga. Layaknya manusia pada umumnya, ternyata Jajang yang selalu tampak ceria ketika bekerja itu pun bisa merintih. Sama seperti kita, mata dunianya tentu bisa melihat ada orang yang berpakaian bagus, mengendarai mobil mewah serta menyantap makanan yang lezat. Ia sudah bertekad akan terus berusaha agar kelak mampu membeli macam-macam kebutuhannya.

“Saya sering sedih juga,” katanya jujur mengingat latar belakang pendidikannya yang tidak bisa dikatakan tinggi sehingga sulit menjadi karyawan kantoran pada umumnya. “Tapi, setiap kali rasa sedih itu datang, saya langsung membayangkan apa jadinya kalau besok adalah hari terakhir saya di dunia,” sambungnya buru-buru melengkapi pendapatnya.

“Rasa sedih saya pasti langsung hilang. Saya merasa enggak perlu barang-barang itu. Yang lebih saya pikirkan adalah: sudah berapa banyak catatan amal kebaikan yang saya kumpulkan untuk modal setelah kematian nanti,” katanya.

Mochamad Husni, Rawamangun, 4 Februari 2011

About Admin

Check Also

Celanaku Kendor Neh…!

Celanaku Kendor Neh…! Jakarta, 4 September 2008 Oleh Abdul latief “Kalau bulan puasa gini, mesjid …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *