Breaking News
Home / Tulisan / Manajemen / Jujur

Jujur

 

”Hattrick” pekikku di suatu pagi, bukan lantaran aku memasukan gol 3 kali berturut-turut ke gawang lawan saat bermain futsal, melainkan berangkat ke kantor tiga hari berturut-turut naik Metro Mini (MM) 07 Jurusan Senen-Semper bersama komplotan pencopet.

Modus mereka cukup cerdik, satu tim terdiri dari 3-5 orang. Satu orang berada di pintu depan, satunya berdiri di pintu belakang, sisanya berada di tengah berbaur dengan penumpang yang lain. Jadi banyak kesempatan untuk mereka beraksi.

Syukurlah aku sama sekali tidak menjadi korban, walau sempat menjadi incaran mereka. Firasat dan gerak-gerik mereka mencurigakan, Kasak-kusuk sambil meraba tas dan celana penumpang. Sempat ada salah satu penumpang yang berbisik pada rekan di sampingnya untuk waspada, akhirnya orang itu menjadi objek kemarahan para copet yang saat itu gagal meraih hasil dan menyalahkan orang itu sebagai penyebab kegagalan saat itu. Hampir saja lelaki pahlawan itu menjadi sasaran pemukulan para copet yang berang, untungnya ada polisi di sekitar lokasi para pencopet tersebut turun dari MM, hingga kekerasan tak terjadi.

Kejadian itu hanya sekelumit kisah tak asing dibahas terlebih untuk kehidupan di kota besar seperti di Jakarta. Bagi Anda yang sering menggunakan kereta api, bis kota, atau bahkan kendaraan pribadi sekalipun, kejahatan sudah menjadi pemandangan lazim setiap hari. Kejahatan selalu muncul hampir di setiap sudut kehidupan, sehingga kejujuran seakan menjadi barang langka bagi kehidupan. Setidaknya itu kesimpulan yang diambil oleh rekanku yang paranoid akibat beberapa kali menjadi korban dan seringnya menyaksikan kejahatan di depan mata maupun melalui media massa.

Dimana bisa kutemukan kejujuran?

Kenapa kau sembunyi dan enggan menampakkan diri kepermukaan?

Apakah kau sudah enggan menelusup ke sanubari manusia?

Ataukah mereka yang enggan hidup bersamamu?

Barangkali kau hanya bisa kutemukan dalam selokan kumuh atau tong sampah?

Mungkin kau hanya bersembunyi di ketiak kitab suci atau bait syair sang pendakwah?

Jadi, masih adakah kejujuran ???

Beberapa bait kegundahan di atas tuliskanya untukku. Masih adakah kejujuran? Bait syair di atas menggelitiku untuk memekuri lebih dalam, hingga membawaku pada pengalaman mengenai kejujuran adalah kejadian di Denpasar beberapa waktu yang lalu.

Malam itu aku dan atasanku tengah membeli oleh-oleh di salah satu toko oleh-oleh yang terkenal murah dan lengkap. Saat melihat-lihat beberapa souvenir, aku tertarik untuk mencoba baju batik motif Bali di kamar pas. Setelah mencoba dan merasa cocok aku masukan dalam keranjang belanja dan aku kembali berkeliling mencari beberapa barang titipan kawan dan adikku.

”Kepada Bapak Abdul Latief, diharap segera datang ke meja operator” terdengar dengan jelas panggilan atas namaku dari operator toko.

”aku? Wah cepat sekali atasanku selesai belanjanya.. ah.. 3 menit lagi lah..” pikirku tak menggubris panggilan itu.

”Kepada Bapak Abdul Latief, diharap segera datang ke meja operator sekarang juga..” panggilan tersebut dikumandangkan lagi hingga beberapa kali.

Kontan saja saya penasaran, akhirnya aku bergegas ke meja operator di tengah  perjalanan, aku bertemu dengan atasanku ”Bapak memanggil saya ke operator? ” tanyaku.

”Enggak.. malah saya mau tanya kamu..” jawab atasanku.

Aku bergegas ke meja operator, aku baru sadar bahwa ternyata saat aku mencoba batik di kamar pas, tas kecilku yang berisi dompet, handphone, kamera, tiket pesawat dan barang berharga lainnya tertinggal di sana. Begitu kulihat isinya, tak ada secuilpun barang yang hilang. Dompetku yang berisi beberapa kartu kredit, ATM dan uang tak seperpun hilang. LUAR BIASA…! ternyata masih tersisa kejujuran yang memadati kehidupan ini.

”Itukan di Bali, bukan di Jakarta…. dan brangkali itu karena kamu memang sedang beruntung bertemu dengan orang jujur..” begitu tanggapan seorang teman saat kuceritakan hal ini padanya.

Aku tak memungkiri bahwa itu terjadi di Bali yang memiliki reputasi sebagai kota yang jujur, dan mungkin saja aku beruntung, namun mengambil istilah seorang kawan mengenai filosofi memakan ikan. Saat kita memakan ikan, kalau fokus kita tertuju pada tulangnya, maka kita akan merasa tidak nyaman dan menganggap tulang itu mengganggu, sedangkan jika fokus pada kandungan daging ikan, maka tulang tak lagi menjadi penghambat nafsu makan kita menyantap ikan.

Pun demikian halnya dengan kejujuran, terlalu banyak orang yang tidak jujur, namun masih lebih banyak mereka yang mempertahankan kejujuran. Di Jakarta ini, terhitung 2 kali barang yang aku bawa terjatuh di bis kota akibat berdesakan dan ternyata ada saja orang yang mengingatkan dan mengambilkan barang itu padaku. Atau meja kerja kita barangkali banyak berserakan barang berharga yang kita tinggal dan tidak sempat dibenahi, lantas bagaimana kondisinya saat kita kembali ke tempat kerja kita? Masih ada bukan?. Memang ada saja kejadian kehilangan barang hilang, tapi bukankah lebih banyak orang jujur di sekitar kita? Dan apakah kita termasuk di dalamnya?

”Pangkal dari segala Dosa adalah ketidakjujuran” begitulah sebuah pepatah Arab mengatakan. Jika dalam sebuah negeri tidak ada lagi kejujuran maka akan binasalah negeri itu. Bayangkan jika jalan layang yang kita lalui menjadi objek ketidakjujuran dengan berkurangnya kandungan bahan beton, maka malapetaka akan segera datang bagi yang melaluinya. Atau gedung yang kita tempati saat ini menjadi objek ketidak jujuran, barangkali kita yang berada di bawahnya akan terancam bahaya dari kehancuran yang akan tiba mendera kita.

Sekali saja kita berbuat tidak jujur, maka kita akan selalu menutupinya dengan kebohongan yang lain secara terus menerus, saat itulah jiwa kita akan terbentuk menjadi pribadi yang tidak jujur, dan menjadikan jujur sebagai hal yang tidak lagi memiliki makna dan harga.

Lantas, masih adakah kejujuran? Jawabnya kita coba tilik hati kita, Apakah kita sudah termasuk orang yang jujur? Hanya kita dan Tuhan yang tahu apakah kita termasuk pribadi yang jujur. Menilik kisah dongeng Pinokio, kalau saja Tuhan mentakdirkan hidung kita panjang jika berbuat tidak jujur, kira-kira sudah berapa panjang hidung kita saat ini?

Abdul Latief

About Admin

Check Also

Sel Perubahan Perilaku

Sel Perubahan Perilaku.   pondok-harmoni.com – Hari ini sangat sibuk sekali, senin yang sibuk diawali …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *