Breaking News
Home / Tulisan / Seni Kehidupan / Kembali Berjaket Merah

Kembali Berjaket Merah

Kembali berJaket Merah

Jakarta, 16 maret 2008

Oleh Abdul Latief

Rasa lelah masih menggelayut di sekujur ototku, mataku masih terasa lekat antar pelupuknya, sebab baru tadi malam aku tiba dari Palembang setelah menjalankan dinas selama satu minggu di sana. Mataku baru terpejam pukul 1 dini hari, mungkin masih bernostalgia dengan aroma duren Palembang, atau karena malam tadi aku tak sabar menantikan tibanya hari ini.

Hari ini aku harus mengikuti kuliah umum di Universitas Mercu Buana, sebagai tangga pertama yang harus aku tapaki dalam melanjutkan kuliah jenjang pascasarjana di kampus ini.

“Kata Phoenix: Human Being Essentially are the creature who have the power to search the meaning. Semoga Allah memberikan yg terbaik dlm pencarian makna kepada Latief. Amien.”

Kata-kata inilah yang membangkitkan libido intelektualku hari ini. Di tengah sambutan kuliah perdana yang sedang disampaikan Rektor UMB Dr. Suharyadi aku sempat kirimkan SMS pada 3 orang, Prof.Dr.Yoyo Mulyana,M.Ed, rector kampusku saat menjalani kuliah S1, Boyke Pribadi, dosenku yang inspirational, dan seorang kawan wanita peraih beasiswa S2 yang tengah merampungkan tesis di Malang. Kukabarkan mereka semata ingin meyakinkan bahwa aku sedang tidak bermimpi hari ini. Setidaknya 3 orang inilah yang paling kuat mendorongku untuk berbuat yang terbaik, dan seperti dugaanku mereka membalas SMSku dengan pemberian semangat padaku, kata bijak di atas adalah balasan SMS dari Prof.Yoyo.

“Anda Semua beruntung, di tengah puluhan ribu pengangguran, anda semua masih punya semangat untuk meningkatkan kualitas hidup anda dan tidak patah semangat untuk menuntut Ilmu…. “ kata-kata terus mengalir deras dari Rektor UMB ini dalam sambutannya di tengah ribuan mahasiswa baru “mungkin ada diantara kita yang berkuliah demi mencapai gelar tapi semoga itu bukan tujuan utama, sebab kami tidak akan memberikan ijazah secara Cuma-Cuma, semuanya harus dijalani sebaik-baiknya sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada…” tambahnya lagi.

Sekitar 1200-an mahasiswa baru memenuhi aula rektorat ini, beragam informasi, wajangan, nasihat terus dilontarkan silih berganti oleh beberapa civitas Akademika UMB, termasuk prosesi peresmian dibukanya tahun ajaran semester genap tahun 2008 ini. Gong sudah dikumandangkan, tapi jiwaku masih mengembara memperhatikan orang dan suasana di sekelilingku. banyak kutemukan raut sumringah tersungging di wajah mereka, namun tak jarang kutemukan ekspresi bingung dan lelah selama acara berlangsung.

Tak kumengerti alur pikiran mereka saat ini, apakah mereka senang karena telah memasuki lembaran baru sebagai seorang berstatus ‘intelek’ di mata masyarakat, atau karena menyandang gelar yang dapat membuat mereka membayar ongkos angkot lebih murah, merasa lebih dewasa setidaknya tidak dianggap ingusan karena menyandang gelar ‘siswa’, atau di masa inilah kita bisa meluapkan seluruh aspirasi kita di jalanan dengan meneriakan penegakan keadilan, pemberantasa korupsi, peningkatan kesejahteraan, tingkatkan kualitas pendidikan, padahal mereka sendiri tidak paham untuk apa dan demi siapa mereka berjuang.

Bagi yang bingung dan lelah, aku juga tak mau ambil pusing. Biarlah mereka tenggelam dalam tujuan mereka masing-masing. Menurut Soe Hok Gie “Dunia kampus tidak akan lepas dari tiga hal; pesta, Cinta, dan buku” terserah mereka tenggelam pada dunia yang mana, yang jelas aku tidak ingin mengulangi kesalahanku saat berkuliah dulu.

Dua tahun semenjak Prof.yoyo memindahkan letak tali di topi togaku, cukuplah bagiku untuk merenungi setiap polah dan tingkahku dulu. Masih hangat dalam benakku 3 kali aku beserta rekan-rekan mahasiswa menutup kampus dan menghentikan perkuliahan atas nama kesejahteraan rakyat dan kepentingan mahasiswa. Masih terngiang di telinga sindiran pak Rector saat kuinjak maket kampus yang hampir pecah kubuatnya. Seringkali aku adu mulut dengan pejabat negara, civitas akademika, wakil rakyat, rekan mahasiswa, lawan politik kampus, semua kujalani tanpa merasa bersalah sama sekali. Berkali-kali sudah komentar dan gambar wajahku menghiasi lembaran media masa local dan nasional saat menyuarakan aspirasi yang tak pernah kutahu hasilnya. Cukuplah itu semua… lulus sarjana 4 tahun dengan yudisium cum laude, adalah keberuntungan tak terkira bagiku di tengah ‘kejahilan’ku menjalani masa kuliah dulu.

Kuliah umum dari Prof.Dr. Didik J Rachbini selaku guru besar tetap UMB membangunkanku dari nostalgiaku bersama carut marut kenangan. “Hey, bangun..! cukuplah kau terbuai dengan masa lalu. itu palsu..! itu Topeng..! ada hal nyata yang harus kau hadapi sekarang, Prof.Didik sedang membukakan kebutaanmu atas kenyataan yang tak pernah kau lihat. Simaklah..! ” batinku berteriak, tak ingin tertinggal oleh hujaman ilmu yang terlontarkan dari mulut pemikir cerdas seperti beliau. Curahan ilmu melesat bak peluru yang membunuh keterpurukan dan kesenjangan intelektual.

7 isu utama dunia mengenai “Pangan dan Energi” telah membuka tabir gelap kejumudan pikir dan kebijakan ekonomi Indonesia dan dunia. Bergidik rasanya bulu kudukku melihat keterpurukan ekonomi negara ini, potensi krisis yang akan melahap habis Negara jika tidak diantisipasi dengan tepat, dan korbannya tentu saja kita sebagai rakyat.

Apa saja 7 isu “pangan dan energi” itu?? Sementara saya tidak ingin menuliskanya di sini, tapi satu kesimpulan dari Prof.Didik yang setidaknya bisa ku sharing adalah ”Seorang Entrepeneur selalu melihat bahwa ’your Problem is my opportunity’ misalnya bagi mayoritas orang tinja adalah masalah, tapi nyatanya banyak orang kaya akibat memanfaatkan tinja” hal ini kembali mengungkap memoriku pada Prof.Yoyo dengan konsep Entrepreneurial University-nya.

”Tuhan telah memberikan kita energi yang tidak terkira. Matahari, tumbuhan, air terjun, aliran sungai, laut, panas bumi, dan banyak lagi sumber energi yang potensial, tapi mengapa kita bisa kekurangan energi? Hal ini tidak akan terjadi bagi manusia yang berikir dan bertindak bijak” ungkap Prof.Didik yang sepengenalanku termasuk orang yang religius.

”Manusia yang paling unggul adalah mereka yang mempunyai visi jangka panjang. Bangsa Cina misalnya, kaisar mereka membangun Tembok Cina yang mereka sadari bahwa mereka tak akan menikmatinya semasa mereka hidup; tapi mereka membangunnya demi generasi mereka di masa depan” lagi, kata-kata Prof.Didik kembali menyeruak dalam batin-pikirku dengan satu pertanyaan ”apakah kita termasuk orang yang bervisi jangka panjang??” rasanya belum terlambat bagi kita untuk menyusun visi panjang kehidupan kita, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. ”HIDUP MAHASISWA..!” pekikku dalam hati.

Tak terasa sekitar dua puluh menit Prof.Didik berhasil mengocok pikiran, hati, dan kesadaran yang selama ini terlelap dalam buaian angan dan kepentingan nafsu pribadi. Semuanya terpatri mantap dalam diriku. Kini tiba waktunya pengarahan tentang fasilitas Cybernet dan E-Learning yang merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan modern saat ini. ”Mhmm.. inilah kemajuan, dan semoga kemajuan ini tidak mengebiri nilai kemanusiaan dan semangat perjuangan yang membutuhkan proses panjang. Bukan sebuah jiwa prematur yang picik terhadap kenyataan hidup” batinku.

Lelah juga menjalani hari ini, semua aktifitas kujalani sejak 9.00 berakhir pukul 15.45. pembukaan awal kuliah, kuliah umum, informasi fasilitas, jadwal kuliah, peraturan kuliah, pendaftaran cybernet, pengenalan civitas akademika, rekan kuliah, semua kujalani dengan penuh semangat. Disini kumulai hidupku, walaupun ada ragu mengenai kemampuanku untuk memenuhi syarat masuk kuliah sebanyak minimal 65% padahal jadwal perjalanan dinasku luar biasa padat. ”Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik buatku, kuberusaha & berdoa, maka Allah akan mengabulkan semua yang terbaik buatku”inilah yang kuyakini hari ini. KULANGKAHKAN KAKI DENGAN BISMILLAH.

Aktifitas terakhirku di hari ini adalah mengambil jaket Almamater, Shalat Ashar, lalu pulang ke rumah. Antrian panjang kulakoni demi mengambil jaket almamaterku walau akan jarang kupakai, setidaknya dapat kupajang di almari kamarku. Satu hal lagi yang mengejutkanku adalah aku akan kembali mengenakan jaket almamater berwarna merah.  4 tahun kuliah S1 mengenakan jaket merah hati dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, kini pasca sarjana di Universitas MercuBuana, aku ’dipaksa’ mengenakan jaket merah menyala.”semoga ini rahasia Tuhan untuk menjaga semangatku agar tetap menyala seperti merah api dan berani menyuarakan kebenaran semerah hati”.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About Admin

Check Also

Hidup Kreatif

HIDUP KREATIF       “Untuk menjadi kreatif, kita harus terbiasa untuk tidak terbiasa”–Yoris Sebastian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *