Breaking News
Home / Tulisan / Motivasi / Lepaskan dan Genggam..!*

Lepaskan dan Genggam..!*

Lepaskan dan Genggam..!*

My Diary: Jakarta,Rabu 26 Agustus 2009.

Oleh Abdul Latief

 

Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.

Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.

Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu “Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!” Namun monyet muda itu  tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu.

 

Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya: “Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!” Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.

 

Kisah klasik di astas, sudah disadur dalam beberapa versi yang berbeda. Setiap kali baca cerita ini, aku kembali terkenang beberapa masa lalu yang sulit untuk dilepaskan. Seringkali aku juga mendapatkan banyak orang yang selalu menggenggam apa yang mestinya dilepaskan, atau malah sebaliknya melepaskan apa yang mesti mereka genggam.

Seminggu yang lalu, Aku meraih Juara Terbaik Lomba Foto Majalah Gadget, Awarding digelar di sebuah Club di Jakarta Selatan dari pukul 22.30 hingga pukul 04.00 WIB. Aku memutuskan untuk tidak datang sendiri ke sana, lantas aku mengajak beberapa teman laki-laki ku, namun tak satupun yang bisa ikut bersamaku. Hampir saja aku tak jadi berangkat, untunglah aku teringat Dendi teman sekolahku yang belum lama ini menghubungiku.

Dendi yang bekerja di call center salah satu Operator GSM di Indonesia ini bersedia menemaniku, aku menjemputnya di kantor pukul 23.30. Aku memang berencana hanya menghadiri awarding, lalu langsung pulang tanpa mengikuti acara lainnya.

Di sana aku banyak berbincang dan bertukar pengalaman dan ide dengannya, aku terkesan dengan perjalanan hidup yang Dendi jalani selama ini. Bagiku, Dendi tetaplah Dendi yang selama ini sangat aku kagumi, Dendi adalah seorang pemimpi, penulis, dan public speaker handal.

***

 

Selepas Awarding, aku ajak Dendi menginap di kamar kost-ku untuk melanjutkan diskusi hingga pagi menjelang. Betapa banyak inspirasi hidup yang aku terima darinya, sejak dulu aku lebih sering untuk menggali himah dari setiap tuturannya yang penuh makna.

Saat asyik dengan tuturannya dia berhenti sejenak melihat sekeliling dinding kamar kostku. Di dinding paling atas tertempel kertas dengan tulisan besar ”Sudut Kontemplasi”,  dibawahnya banyak j tertempel kata-kata mutiara, cita-cita, target hidup, inspirasi, perenungan dan hikmah yang dapat membangkitkan diriku semuanya tertempel bertumpuk dan berserakan menutupi setiap ruang kosong dinding kamarku. Kamarku tak ubahnya sudut-sudut kota yang tertempeli poster kampanye partai dan capres. Hampir tak ada ruang kosong, semraut tapi dari situlah inspirasi hidup banyak aku dapatkan.

De, — begitu ia memanggilku – hal seperti ini yang seharusnya gw gak tinggalkan..! di kamar gw semua buku tertata rapih, sehingga seringkali enggan untuk membacanya. Buku catatan kecil yang biasa kita gunakan untuk mencatat ide, sudah lama gw gak gunakan, You’r Great De..! koleksi buku lo bertebaran di kamar, itu tanda lo memanfaatkan dengan baik, setiap inspirasi di otak lo coba dibangkitkan dengan tebaran motivasi yang tertempel di dinding kamar lo. Kenapa gw tinggalkan hal baik seperti ini…! gw udah lama gak menelorkan ide seperti dulu, udah lama gw gak menulis, udah lama gw butuh inspirasi seperti ini…! Thanks De..!”. tuturnya sambil termangu menatap dinding kamarku yang kotor tertempeli penggalan kata-kata inspirasi dan motivasi untuk diriku.

Dendi yang selama ini mereka nyaman dengan kerapihan kamarnya, begitu nyenyak tidur kamar kecil kost-ku yang berhimpitan dengan tumpukan buku dan kertas yang berserakan. Rupanya aku telah mengingatkannya tentang masa lalu yang dulu kami pernah jalani dalam merangkai kata dalam bait puisi, menelorkan tulisan penuh makna, membuahkan karya yang tak pernah habis dimakan zaman.

Pagi harinya aku harus ke kampus untuk mengurus pengajuan proposal tesisku, Dendi pun harus kembali ke kantornya. Di perempatan Tugu Tani kami berpisah, kali ini Dendi kembali menyelipkan pesan dari gaya tuturnya yang memukau, ”De, Semua bukan tergantung banyaknya jumlah waktu tidur kita, walaupun kita hanya tidur 3 jam, tapi semua terasa segar karena semangat kita untuk bangun dan bangkit…!. De, Ada hal yang harus kita lepaskan untuk meraih yang lebih baik, namun untuk menjadi lebih baik, kita juga jangan melepaskan apa yang mesti kita genggam….! thanks For Everything..!.” Suara Klakson dan deru sepeda motornya membawaku pada sebuah pencerahan baru dalam hidup. Dari seorang Dendi yang selalu aku kagumi.

Di ujung jalan Menteng Raya, aku kembali termangu menatap sepeda motornya yang semakin menghilang, kisah tentang dendi menyeruak dalam hatiku. Aku saat ini menggeluti dunia public speaking, tapi kemampuan Dendi sejak dulu tetap jauh melampauiku. Sejak sekolah dulu, Dendi selalu juara public speaking di tingkat sekolah, daerah, maupun nasional. Dan aku hanya menjadi penikmat sekaligus pengagum dirinya. Saat perpisahan sekolah, tak dapat diragukan bahwa Dendilah perwakilan salam perpisahan siswa, dia menyampaikannya dalam bahasa Inggris yang memukau.

Dendi dan aku adalah rekan diskusi dan debat yang alot, kami tergabung dalam forum diskusi yang sama, aku sebagai ketua,dan dia juara nya. Forum Jurnalistik, aku memang menjadi ketua tapi Dendilah yang tetap jadi juara, di Komunitas menulis dan Sastra, akupun jadi ketua tapi Dendi yang menjadi Ikon pergerakan dan ide dari setiap aktifitas yang kami jalani.

Dendi tetaplah dendi yang penuh semangat dan mimpi yang sulit ditebak oleh siapapun. Tak ada yang dapat menebak mimpi dan sepak terjangnya. Setahuku, dia pernah menjadi 5 besar kandidat penyiar Metro TV dari ribuan orang pelamar, akhirnya dia gagal karena hanya Fifi Aleyda Yahya yang terpilih, aku hanya berseloroh, ”Lo kurang ganteng aja Den… he… he…” Dendi hanya melumat senyumnya yang tersipu.

Satu mimpi Dendi yang tertunda adalah upayanya mendapat beasiswa pasca sarjananya ke luar negeri. Sejak Sekolah dulu, Dendi telah memimpikannya, dan aku yakin Dendi pasti akan meraihnya. Mimpi itu sebenarnya sudah di depan mata, namun karena Dendi kini menjadi tulang punggung bagi adik-adik yang tengah sekolah, maka Dendi bersedia melepaskan genggaman mimpinya sementara.

Dendi salah satu manusia berbakat dan pejuang yang aku kagumi hingga kini. Kedewasaannyalah yang telah membuatnya melepaskan genggaman mimpinya demi kelanjutan cita-cita orang yang Dendi kasihi. Dendi Juga mengingatkan aku akan kakak-kakakku yang mengorbankan dirinya demi kalangsungan sekolahku dan adik-adikku. Mereka Orang Hebat, Salut untukmu Dendi dan kakakku tercinta..!

 

*) Teruntuk Sobatku Deden Sudendi, sahabat yang aku kagumi.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About abdullatiefku

Check Also

Katak Tuli

Katak Tuli     pondok-harmoni.com – Sebulan yang lalu, entah mengapa aku rindu pada Profesor …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *