Breaking News
Home / Tulisan / Spiritual / Memberi dan Menerima

Memberi dan Menerima

Memberi Dan Menerima*

Jakarta, 30 Januari 2009

Oleh Abdul Latief

Alkisah, dua ruh manusia tengah menunggu giliran untuk dilahirkan ke dunia. Datanglah malaikat menawarkan dua pilihan sekenario kehidupan pada mereka.

Kalian akan segera di terjunkan ke dunia, namun salah satu dari kalian akan menjalani hidup ‘memberi’, sedang yang satu lagi, menjalani hidup ‘menerima’. Siapa yang mau menjalani hidup ‘menerima?’.“

Mendengar pertanyaan itu, ruh yang pertama berpikir dalam hati,  “Menjalani hidup menerima tidak akan menderita bahkan menyenangkan

Setelah berpikir demikan ia bergegas menjawab, “izinkanlah saya menjalani hidup hanya dengan menerima.

Melihat A berujar demikian, B sama sekali tidak iri. Bahkan ia berpikir, Menjalani hidup memberi berarti selalu membantu orang lain. Suatu perbuatan yang mulia! Tanpa ragu, B berkata, “Raja Neraka, saya rela menjalani hidup memberi.”

Setelah mendengar jawaban kedua RUH itu, Sang Malaikat mencatat penentuan masa depan keduanya dan berujar, “B, karena kau memilih hidup memberi, maka engkau akan menjadi orang kaya yang dermawan, suka beramal dan menolong orang. Sedangkan kau A, karena mengharapkan hidup menerima, maka engkau akan menjadi pengemis yang hidup dari pemberian orang lain.

Kisah ini aku pernah dengar dari cerita ayahku, entah darimana kisah ini muncul, namun yang jelas prinsip inipulalah yang sepertinya selalu dipegang teguh ayahku hingga akhir hayatnya dengan tetap berusaha mewariskan prinsip itu pada anak dan istrinya.

Masih tergambar jelas dalam benak saat ayahku tercinta tengah sekarat di tempat tidur menjelang ajalnya. Saat itu aku sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara masih kelas 1 SLTP, kakak tertuaku baru saja pulang wisuda SMF (Sekolah Menengah Farmasi) sebagai lulusan terbaik ke-3 seluruh Indonesia dan langsung mendapat Golden Ticket di Fakultas Kedokteran, sedangkan adik bungsuku baru naik kelas dua SD.

Kami sekeluarga meraung dan meneteskan air mata kesedihan, kami belum siap harus ditinggal pergi oleh ayah yang luar biasa. Bagi kami tak ada habisnya cerita dan kekaguman tentang ayah. Bahkan Om, tante, uwa, nenek, sepupu dan seluruh keluarga kami sangat mengagumi kecerdasan, kebijaksanaan, dan kesabaran beliau dalam perannya sebagai pimpinan keluarga. Bahkan pola didikan yang diterapkan ayahku ikut diadaptasi oleh mereka.

Ayah…, jangan tinggalkan kami. Mama belum siap mengurus dan mendidik ketujuh anak kita sendirian..” Mamaku membisikan ratapnya di telinga kiri ayahku. Sedangkan Uwa – panggilan sunda untuk kakak mamaku terus memandu Ayahku mengucapkan kata “Allah.. Allah… Allah..

Di luar dugaan kami, ternyata sebait ‘Magic Word’ meluncur dari lisan ayahku seraya berujar, “Ma… ada Allah.. ada Allah.. ma..  jangan khawatir.. ada Allah..”

 

Seraya terhentak dan menahan tangis, mamaku termangu mendengar ucapan yang sangat akrab di telinga Mama. Sejak awal menikah, terlebih ketika menjalani ‘strooke’ selama 3 tahun akibat penyakit darah tinggi, ayah selalu meyakinkan kami bahwa hidup itu mudah, ada Allah yang senantiasa menjaga dan memberikan kita yang terbaik sesuai yang kita butuhkan. Mamaku terkadang ragu jika harus menjalani hidup bersama ketujuh anak yang masih kecil jika kelak Allah berkehendak lain terhadap ayahku. Tapi lagi-lagi ayah selalu berujar “Ada Allah…”.

Seraya mengumpulkan kembali energi ketegaran yang sempat luntur tadi, mamaku berbisik ringan, “Ayah… Mama akan urus dan didik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Karena ada Allah yang selalu bersama kita…

Mendengar bisikan itu, ayahku menarik napas panjang seraya berujar “Allah…”. Segenap tangis dan ratap riuh membahana di seluruh relung rumah kami. Kami belum siap saat itu, kakak tertuaku sekejap pingsan, adik perempuanku menarik kaki ayahku seraya berujar “Ayah.. Tini mau ikut … ajak Tini … jangan tinggalin Tini… Ayah… ajak Tini..”.

Kami meronta sejadi-jadinya, meluapkan semua emosi kami. Tapi entah kekuatan dari mana yang merasuk di mamaku. Dengan penuh ketegaran Mamaku merangkul semua anaknya seraya berujar “Anak-anakku, masih jelas di telinga pesan terakhir almarhum, Mama akan jaga kalian dan ada Allah yang Bantu kita. Jadi jangan menangis dan membuat almarhum menderita dengan tangis kalian. Relakan.. ikhlaskan”.

Mamaku menarik dan memeluk tubuh adik perempuanku yang terus memegang kaki ayah, sambil berujar “Ayo Tini.. ikhlaskan. Lihat Tin, Almarhum tersenyum pada kita..” sambil menunjuk ke wajah ayahku dengan senyum terkembang di bibirnya, teduh.. tenang… subhanallah.. husnul khatimah…

 

***

Selepas meninggal ayah, kehidupan mulai menampakan wujud aslinya, tak ada kemewahan yang dapat kami tunjukan, namun tak ada juga derita yang kami rasakan. Kehidupan selalu memberikan warna indah bagi kami di bawah bimbingan mamaku yang lembut sebagai ibu namun kadang harus terpaksa berbuat keras sebagai seorang ayah. Untungnya kami sejak dulu hingga kini kami selalu membuat mama dan almarhum ayah bangga dengan selalu membawa prestasi gemilang di sekolah. Juara umum atau minimal 5 besar di sekolah.

Prestasi itulah yang membuat kami dapat bertahan sekolah hingga ke jenjang yang tinggi. Kakak tertuaku, urung melanjutkan kuliah di kedokteran karena tak ingin merepokan om-ku yang bersedia membiayai hingga lulus. Begitu juga kakak perempuan keduanya, mereka memilih bekerja untuk membantu adik-adiknya bersekolah. Agar kami sekeluarga tidak bergantung pada orang lain, tidak mengemis selain pada Allah.

Kami semua seringkali mendapat beasiswa dari sekolah, namun dilema selalu muncul saat syarat beasiswa mengharuskan kami melampirkan “Surat Keterangan Tidak Mampu” dari kelurahan. Setiap kami meminta izin ke mama untuk itu, entah mengapa hati beliau membatu, hanya beruajar “Ucapan dan perbuatan itu bagian dari doa, kalau kamu meminta surat keterangan seperti itu, maka kami telah berdoa menjadi orang yang tidak mampu dan menampatkan diri kamu sebagai orang yang mengemis. Kalau memang Allah mentakdirkan kamu dapat beasiswa tanpa surat itu, maka pasti kamu akan dapat”.

Aku yakin sikap itu diwariskan dari ayah, saat beliau masih hidup, beliau pernah berkata keras gara-gara sekolah akan memberikan beasiswa prestasi bagi mereka yang tidak mampu, saat itu kakaku memaksa dan merengek untuk meminta surat keterangan tidak mampu. “Memangnya orang harus berlomba-lomba menjadi orang miskin untuk mendapat beasiswa? Kalau memang beasiswa prestasi, untuk apa membuat surat keterangan tidak mampu, tugas kamu belajar, kalau orang ingin menghargai kamu, bukan karena belas kasihan manusia, tapi dari prestasi kamu..!, ALLAH tak akan pernah SALAH KASIH. Kalau itu rezekimu, pasti akan kamu dapat beasiswa itu tanpa mengemis..!

Sepeninggalan ayah, mamaku tetap menjadi ibu rumah tangga sekaligus kepala keluarga. Mamaku tidak bekerja, karena sejak menikah dulu, mama harus berhenti bekerja dan focus menjadi ibu rumah tangga. Tugas ayah menafkahi dan mendidik anak sedangkan mamaku mengurus keluarga. Konvensional memang, tapi lagi-lagi ayah berujar “Mengurus anak adalah ibadah, mencari rizki adalah sarana ibadah. Jangan sampai bekerja menelantarkan anak, kasih sayang untuk anak tak akan terbeli oleh apapun, apakah harta yang melimpah dapat membeli kasih sayang untuk anak kita? Berapa banyak kasih sayang untuk anak yang dirampas dan tertukar harta yang tak lagi berguna saat di akhirat nanti..!”

Ujian lainnya, datang saat harus berbagi di saat kami juga sangat membutuhkan. Namun kembali ayahku selalu menekankan bahwa berbagi itu lebih baik dan berusahalah tidak menolak permintaan orang selagi kita masih bisa mengusahakan. Tak sekali ada tetangga yang datang untuk meminta bantuan biaya rumah sakit, biaya sekolah, atau bantuan lainnya bahkan di tengah malam mereka datang tanpa sungkan untuk mengetuk rumah kami, karena mereka tahu bahwa ayah tak pernah akan bermuka masam pada mereka, bahkan di tengah kondisi sakitnya, ayahku tetaplah orang yang bijak, yang minta mama untuk membantu kendati dana itu dibutuhkan untuk anak dan keluarganya. Jawabnya selalu ringan “Mungkin rezeki yang ada di rumah kita malam ini memang diperuntukan baginya, jadi untuk apa kita tahan, toh nanti kalau saatnya tiba kita pasti dapat gantinya…

Mengantar tetangga sakit atau Ikut menguburkan jenazah tetangga di jam 2 pagi pun ayah pernah melakukannya, jawabnya lagi-lagi ringan “Kalau kita yang berada di posisi dia, bagaimana?, jangan pernah menolak berbuat baik, sebab Allah tak akan pernah lupa membalas perbuatan kita..!

Ayah dulu seorang pengusaha yang sukses, omset bisnisnya jika dikonversi sekarang bisa mencapai milyaran rupiah. Ayahku memasok bibit ayam ternak, pakan ternak, obat ternak, dan memberikan modal usaha kepada pengusaha peternakan. Hampir seluruh perternakan ayam di Banten (Tangerang, Serang, Pandeglang, Rangkas bahkan Cilegon) adalah wilayah bisnis ayahku. Bisnisnya sangat maju karena bermodalkan kejujuran dan keinginan untuk berbagi.

Tak jarang para pengusaha rekanan ayahku bermain nakal, misalnya menjual sebagian besar ayam potongnya kemudian mengaku rugi karena ayamnya mati, atau banyak modus lainnya, sampai tak melarikan uang modal yang ayahku berikan atau menolak untuk membayar hutang. Banyak sekali kelicikan para pengusaha-pengusaha busuk itu, namun ayah tak pernah menuntut mereka ke polisi, atau mendatangkan “Debt Collector”. Pamanku “gemas” melihat tingkah ayahku, namun beliau hanya berujar “Biarkan Allah pasti akan menyadarkan mereka, toh mereka tidak akan bahagia dengan apa yang mereka makan dari barang yang bukan haknya. Allah tidak tidur dan tidak buta kok..”. Pamanku sebagai pengawas lapangan hanya berujar “Dasar bapakmu, terlampau baik pada orang..”

Sampai sekarang terkadang aku masih mempertanyakan beberapa sikap ayahku itu, akankah hal tersebut karena ayahku terlalu gengsi untuk meminta? ataukah beliau terlalu lemah hatinya sehingga tak berani memaksakan kehendak? yang jelas, kami masih bisa bertahan hidup layak dengan memegang prinsip tersebut hingga kini. Setiap kami membutuh sesuatu, selalu saja Allah mencukupkan kami dengan jalan yang tak di duga-duga. Bahkan saat ayahku tiba-tiba stroke dan harus dibawa ke rumah sakit, berduyun-duyun tetangga datang tanpa harus kami minta. Bahkan semua tetangga, teman dan kerabat jauh ikut menangis saat ayahku menutup mata di dunia, padahal mereka mengaku tak pernah menangisi orang lain saat meninggal selain ayahku ini.

Saat kita memberi, jangan pernah berharap untuk menerima balas, sebab Allah tak akan pernah salah kasih dan lupa untuk membalas. Hidup MEMBERI menunjukkan bahwa kita memiliki kelebihan, sehingga dapat menolong orang lain. Hidup MENERIMA menunjukkan kita hidup dalam kekurangan. Ada pepatah yang mengatakan tangan yang memberi berada di atas tangan yang menerima.

Dengan bersikap memberi dan melindungi semua mahluk hidup, membantu mengurangi penderitaan mahluk hidup lainnya, seperti memberi semangat bagi yang sedang bersedih, turut merasa lapar saat orang lain sedang kelaparan akan menjadikan bumi yang kita huni ini sebagai tempat yang menyenangkan.

* Sekelumit kisah tentang Almarhum Ayahku, dan persembahan untuk almarhumah keponakan tercinta yang manis, cantik dan cerdas “Aghniya Yulqi Aurelia”. Allah sangat sayang pada kalian berdua, semoga bahagia di Surga sana.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About abdullatiefku

Check Also

Memecah Kebekuan Hati

Memecah Kebekuan Hati Jakarta, 27 Maret 2008 Oleh Abdul Latief “Hattrick….!” teriakku pagi ini. Tiga …

One comment

  1. Saya terus menghabiskan setengah sya satu jam untuk membaca ini blog ‘ѕ tulisan setiap
    hari bersama dengan mᥙɡ kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *