Breaking News
Home / Tulisan / Spiritual / Memecah Kebekuan Hati

Memecah Kebekuan Hati

Memecah Kebekuan Hati

Jakarta, 27 Maret 2008

Oleh Abdul Latief

Hattrick….!” teriakku pagi ini. Tiga hari ini berturut-turut pergi ke kantor dengan Metro Mini, aku bertemu dengan pengamen yang sama. Seorang gadis kecil dengan kepingan pipih tutup botol sebagai alat musik, melantunan lagu yang masih sama dengan kemarin dan lusa yang lalu.

Pengamen memang bagian tak terpisahkan dari Metro Mini dan bus kota di Indonesia terutama Jakarta, tapi jika harus bertemu dengan pengamen yang sama, di tempat yang sama secara berturut-turut, bukankah itu suatu kebetulan yang luar biasa?

Tak ada sesuatu yang diciptakan sia-sia, dan tak ada suatu kejadianpun yang terjadi tanpa direncanakan atau secara kebetulan, pun sepucuk daun kering yang jatuh dari pohon tak lepas dari takdir-NYA” begitu sekilas pesan yang kuingat dari guruku dulu.

 

Jika tak ada yang sia-sia, lalu apa makna pertemuanku dengan bocah pengamen ini? Bukankah lagu yang dinyanyikannya tak menyiratkan hikmah yang dalam untuk dipetik?. Lantunan suaranya terdengar sumbang untuk dijadikan contoh bernyanyi yang baik, kalaupun banyak rekan-rekan yang mencibir suaraku saat melantunkan tembang Ebit G Ade, mestinya mereka membandingkan suaraku dengan bocah ini.., lalu apa?

Beberapa menit termenung tanpa makna, hingga berakhir tugasnya ’menghibur’ para penumpang di Metro Mini. Kuperhatikan mimik para penumpang, rupanya tak satupun dari mereka menebar senyum, mungkin lipatan senyum mereka telah terhimpit beban berat yang akan dijalani di tempat kerja. ”Bocah pengamen ini tak berhasil menghibur para penumpang” gumamku.

Ekspresi bocah itu kian memelas, sambil menyodorkan kantong bekas bungkus permen, ia menagih haknya sebagai pekerja seni. Tak satupun penumpang yang peduli dengan juluran tangannya, jangankan selembar uang, kata maaf, terima kasih atau isyarat penolakan tak kunjung kulihat, semua penumpang urung berbelas kasih padanya.

Tiba-tiba, sebuah rasa bersalah datang padaku, ”bukankah kemarin dan lusa kaupun berbuat hal yang sama padanya? tak berbelas kasih apalagi menolong..! lihat kantongnya masih kosong, segera ambil uang receh di kantongmu itu, bukankah memang sudah kau persiapkan untuk para pengamen dan pengemis seperti bocah itu?!!

”Bukankah kalau aku berikan uang padanya berarti aku melestarikan budaya kemiskinan..???” batin ku berontak.

STOP APPOLOGIZE…! berhenti memberi alasan!! dia semakin dekat denganmu. Bayangkan kalau dia adalah adik kandungmu, apakah kau tega membiarkannya seperti itu? Apakah secuil uluran rezekimu akan membuatmu miskin?

”Tapi….”

 

”Sudahlah, jangan banyak alasan.. ini bukan lagi perkara sosial, politik, ekonomi, atau hal berat yang mesti diperdebatkan dan dibuat Undang-Undang. Melainkan sebuah bukti apakah kau masih memiliki hati nurani, apakah kau masih terketuk untuk membantu sesama yang membutuhkan?”

”Bukankah…..”

”STOP….! jangan sok pintar kau, sekarang bungkusan itu ada dihadapanmu, kau akan memberi atau tak peduli?? Tuhan Maha Membalas setiap tindakan…”

Kuakhiri perdebatan batin ini dengan merogoh sekeping ’gopean’ di kantong celanaku,  kumasukan ke dalam bungkusan kecil itu. ”terima kasih pak…. ” ujar bocah itu lirih.

Tak kusadari sebuncah senyum terkembang di bibirku, aliran darah melesat begitu deras di sekujur tubuhku, hatiku lapang, jiwaku terbang. Kurasakan bahagia tak terkira telah menyisihkan sesuatu yang tak berarti buatku untuk sesuatu yang sangat berarti buat orang lain.

Kuingat sebuah pesan yang selalu dilontakan mama pada kami anak-anaknya ”Anak-anakku… Jangan biarkan rasa syukur pergi sesaatpun dari hati kalian, apa yang kita dapatkan saat ini pasti lebih baik dari banyak orang di sekitar kita. Sekalipun kita sangat menderita, yakinlah bahwa itu bagian dari nikmat yang terbaik dari Tuhan untuk kita”

”Anak-anakku… Jangan biarkan kebekuan hati menjauhkanmu dari perbuatan baik pada sesama. Baju bekas yang kau miliki, lembaran uang di kantongmu, senyum di wajahmu, tenaga di tubuhmu, ilmu di otakmu, rasa senang di hatimu, dan napas di jiwamu adalah modal hidupmu untuk berbuat kebaikan untuk sesama. Saat kau melakukannya, maka kau akan rasakan kebahagiaan yang tidak bisa orang lain rasakan. Dan Allah pasti punya perhitungan atas apa yang kau lakukan. Allah Maha Melihat Allah Mendengar, Allah Maha mengetahui…”

Rupanya hatiku telah beku selama ini, bocah kecil itulah yang memecah karang tajam yang menghalau belas kasihku. Sungguh Nikmat berbuat baik. Semoga aku akan menjadi orang yang selalu berbuat baik.

Kalau hari ini kugelontorkan sekeping uang, mestinya besok kusodorkan lembaran uang. Kalau hari ini kuberikan secarik baju bekas, esok mestinya kuberikan sebuah baju yang baru.

Kalau hari ini sebuah senyum kuberikan, maka esok mestinya kubuat orang lain tersenyum dan tertawa bahagia. Tingkatkan terus nilai hidup, hidup sekali, hiduplah yang berarti…!

****

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About Admin

Check Also

Celanaku Kendor Neh…!

Celanaku Kendor Neh…! Jakarta, 4 September 2008 Oleh Abdul latief “Kalau bulan puasa gini, mesjid …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *