Breaking News
Home / Tulisan / Manajemen / Mendengar

Mendengar

Mendengar…

Jakarta, 16 Juni 2009. Pukul 22.45 WIB.

Oleh Abdul Latief

 

Seorang Istri tengah memasak di dapur. Sang Suami yang berada di sampingnya mengoceh tak berkesudahan, “Pelan sedikit, hati-hati! Apinya terlalu besar. Ikannya cepat dibalik, minyaknya terlalu banyak..!“.

Merasa sudah berpengalaman memasak ikan, maka Sang Istri secara spontan menjawab, “Saya mengerti bagaimana cara memasak ikan…!”.

Suaminya dengan tenang menjawab, “Saya hanya ingin dirimu mengerti bagaimana perasaan saya … saat saya sedang mengemudikan mobil, engkau yang berada disamping mengoceh tak ada hentinya….!”.

***

 

Ha… ha… ha… cerita di atas kudapat dari sebuah milis humor di internet, aku memang salah satu penggemar milis ini, karena banyak orang kreatif di dalamnya. Walaupun isi materi nya merupakan hasil Forward dari beberapa email yang tak jelas siapa yang memulai, yang pasti kreatifitas sang pembuat email ini seringkali mengocok perut atau  termesem-mesem sendiri sekedar untuk menyejukan hati yang tengah gundah. Salah satunya email ini yang sukses membuatku tergelitik dan berteriak “Eureka..!” bukan hanya karena lucu menurutku, namun juga menjawab beberapa persoalan hidup.

 

Saat kita kecil mungkin kita jengah dengan orang tua kita yang sering mengoceh atau memarahi kita akibat kita melakukan hal yang menurut mereka tidak layak dilakukan, padahal saat itu kita menganggap tindakan kita tak salah sama sekali. Tapi saat kita sudah menjadi orang tua, akhirnya kita paham bahwa tindakan orang tua kita dulu adalah hal yang sangat perlu dilakukan. Memang seringkali butuh waktu untuk memahami suatu tindakan baik atau buruk, namun biasanya hati yang peka akan merekomendasikan tindakan apa yang tepat untuk dilakukan.

Kepekaan hati dan saling memahami perasaan salah satunya terkait erat dengan kemampuan untuk mendengar. Seringkali kita menolak suatu perkara sebelum kita sama sekali mendengar secara keseluruhan, mencerna maknanya dan menimbang tindakan kita atas apa yang didengar. Telinga adalah salah satu jendela hati, apa yang kita dengar sangat berpengaruh terhadap hati, namun seringkali kita tidak mendengar dengan baik sehingga hati kita menerima kurang baik.

Allah membuat telinga kita dua kali jumlahnya dari lidah kita. Lidah kita hanya satu, tapi telinga kita ada dua, supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kalaupun ingin berbicara, bicaralah hal yang berguna.

Khusus untuk mendengar, beberapa waktu yang lalu seorang rekan –sebut saja namanya Tio – kulihat wajahnya sangat pucat dan tak seceria biasanya, aku merasa ada sebuah beban yang tengah tertumpu di pundaknya namun aku hanya berbincang sambil berjalan menuju mesjid untuk shalat zhuhur.

 

Selepas shalat zuhur kulihat wajahnya sedemikian suram, sepertinya dia tak berhasil melepaskan beban di pundaknya, untuk itu aku beranikan diri untuk berbincang dan mengetahui ada apa gerangan dengan dirinya.

Tio, wajahmu terlihat murung, ada apa gerangan? Kamu sehat-sehat aja kan?” tanyaku mengawali.

”Iya neh Tief, lagi ada masalah pribadi… sebenarnya aku ingin cerita, tapi gak tau harus cerita sama siapa? Yang jelas beban ini cukup mengganggu aktifitas yang aku jalani.” jawab Tio masih dengan wajah yang murung.

”Gini deh Tio, kalau kamu tak keberatan, kamu bisa cerita padaku, insya Allah kalau aku bisa aku akan bantu carikan solusi. Kalaupun aku tak bisa mencarikan solusi, aku akan tetap menjaga ceritamu dan mendoakan semoga kau cepat menemukan solusinya. Gimana kamu mau cerita kan?” aku berusaha meyakinkan walaupun aku sendiri ragu apakah aku dapat meringankan bebannya.

Setelah itu, Tio bercerita tentang masalah pribadinya padaku. selama dia bercerita aku mendengarkan dengan cermat setiap kalimat yang mengalir dari bibirnya. Sesekali aku bertanya singkat dan berusaha menggali semua perasaan yang selama ini terpendam di hatinya. Aku tak banyak bicara, sesekali aku bercerita tentang beberapa hal yang aku kira berguna untuk dijadikan solusi olehnya, namun setelah itu kembali aku berikan Tio kesempatan untuk bercerita lebih banyak dan menuangkan seluruh beban di dadanya. Di luar dugaanku, mukanya merah padam, tangispun tak kuasa terbendung dari mata dan hatinya. Begitu puas Tio tuangkan perasaannya sehingga saat keluar mesjid mukanya terasa tercerahkan dan senyum mulai membuncah di wajahnya.

Aku sengaja tak menceritakan apa masalah yang dialami Tio, karena hal itu bersifat pribadi, namun satu hal yang aku syukuri bahwa tindakan mendengarku ternyata amat berarti bagi Tio yang selama ini tak dapat menuangkan dentuman masalah hati yang menderanya. Dan hingga kini Tio lebih akrab denganku dan seringkali sharing tentang beberapa hal yang dialami.

Tidak hanya pada Tio, seringkali aku menghadapi banyak rekan yang membutuhkan bantuan untuk masalahnya. Entah mengapa mereka merasa percaya untuk menceritakan masalahnya padaku, padahal belum tentu aku dapat memberikan solusi bagi mereka, yang biasa aku lakukan hanya mendengar dengan cermat dan sesekali berusaha menggali lebih dalam agar seluruh perasaan di hati dan beban di kepala semuanya tertumpahkan. Ajaibnya hal itu seringkali lebih efektif ketimbang memberikan nasihat untuk mereka yang sedang memiliki masalah.

Sebelumnya hal tersebut tidak pernah aku pahami, namun seiring perjalanan waktu ternyata ada sebuah pelajaran komunikasi yang aku dapatkan tentang hal tersebut bahwa kita ini seringkali seperti mendengarkan, tetapi sebetulnya tidak. Walaupun mata kita hadapkan dan wajah kita arahkan pada lawan bicara kita, belum tentu kita mendengarkan, mengapa? Karena, sebenarnya yang mendengar itu bukan telinga, melainkan hati. Kalau hati sudah tidak mendengar, walaupun telinganya normal, tetap kita tidak akan mendengar. Uniknya, hati sang lawan bicara akan merasakan bahwa kita tidak sedang mendengarnya, sehingga tidak tercipta komunikasi efektif yang memadukan antara hati dengan hati. Komunikasi kita saat itu telah gagal.

Berdasarkan penelitian, kalau kita mendengarkan suatu pembicaraan, bagi orang yang kurang terlatih mendengarkan, paling efektif rata-rata kita hanya mampu mendengar 15% dari seluruh pembicaraan; 85% lagi tidak terdengar. Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris, ” You Hear me, but you don’t listen to me”. “Anda mendengar saya, tapi tidak mendengar saya.”. Mengapa? Lagi-lagi sebenarnya yang mendengar adalah Hati, dan hati lawan bicara kita akan dapat merasakan jika hati kita tidak mendengarnya. Ingat, mata dan telinga hanyalah alat luarnya saja, tapi jauh di dalam diri kita ada hati yang menjadi pendengar sesungguhnya.

Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat penah menulis bahwa bangsa Indonesia baru meningkat dari tahap pertama menuju tahap kedua. Dulu, bangsa yang paling sederhana adalah bangsa yang hanya senang melihat saja, bangsa yang suka menonton (Watching society) bangsa ini memperoleh pelajaran dari menonton. Menonton atau melihat lebih mudah daripada mendengarkan, untuk itu jika sudah melewati tahapan ini maka sebuah bangsa akan berubah tingkatan menjadi bangsa mendengar (Listening Society). Tahap yang lebih tinggi lagi adalah Reading Society, yaitu bangsa yang dapat membaca dan menganalisa. Bangsa ini menjadikan solusi sebagai tujuan utama, bukan hanya berdebat dan merasa dirinya paling benar tanpa menghiraukan hal lain di luar dirinya.

Seringkali beberapa masalah, kesalahpahaman, pertengakaran, atau kegagalan terjadi dikarenakan salah mendengarkan. Menurut pada psikolog, banyak penderita gangguan jiwa menjadi berkurang goncangan jiwanya ketika mendapatkan telinga yang mau mendengarkan dengan baik.

Demikian juga di tempat kerja atau lingkungan keluarga kita, jika saja setiap orang dapat menjadi pendengar yang baik maka kesalahpahaman dan salah pengertian akan dapat dihindari. Kata-kata “Kamu suami yang tidak pengertian..!”,Atasanku gak pernah mengerti aku..”, “kamu ini salah paham..!”. semua perkataan itu akan dapat terhindarkan jika kita membuat diri lebih peka  dan lebih berusaha mendengar perasaan orang lain ketimbang terburu-buru menghakimi dan menganggap kita lebih layak di dengar.

Sudahkah kita menjadi pendengar yang baik ?? semoga saja..!

Menjelang Pilpres di bulan juli depan, patut kita renungkan apakah para calon pemimpin kita sudah cukup menjadi pendengar yang baik? Ataukah mereka menjadi orang yang lebih banyak ingin didengar kehebatannya, keberhasilannya, visinya, namun lupa untuk mendengar apa sesungguhnya yang benar-benar diinginkan rakyat? Atau mereka berusaha berperan sebagai pendengar yang baik dengan membuka mata dan telinga sambil mendatangi rakyat di pasar, di gubug reyot, dan pelosok-pelosok negeri, namun hanya telinga dan mata yang dipasang, sedangkan hati tetap tertutup? aku tak tahu jawabnya, namun kita dapat merasakan apakah hati kita merasakan mereka telah menjadi pendengar yang baik buat kita. Semoga saja mereka pendengar yang baik. Allahu a’lam bish shawwab.

Nb: Beberapa minggu yang lalu aku dan sobatku tidak saling menjadi pendengar yang baik, sehingga hal itu menoreh hati. Semoga lain kali akan saling menjadi pendengar yang lebih baik.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About abdullatiefku

Check Also

Sel Perubahan Perilaku

Sel Perubahan Perilaku.   pondok-harmoni.com – Hari ini sangat sibuk sekali, senin yang sibuk diawali …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *