Breaking News
Home / Tulisan / Motivasi / Modal hidup

Modal hidup

Modal Hidup

My Diary: 16 November 2007

Oleh Abdul Latief

Tulisan ini terinspirasi dari pengamen ‘tak bermodal’ yang menyambangi metromini yang kutumpangi saat pulang kerja.  Dengan suara sumbang dan  tanpa alat music, dia bernyanyi meminta apresiasi. saat tak diberi, wajah sangar dan umpatan sumpah serapah yang terlontar dari mulutnya, Tak adakah cara yang lebih baik?

 

Jika ada 3 jenis pengamen yang datang menghibur kita, pengamen pertama, bernyanyi hanya diiringi tepukan tangan tanpa menggunakan alat musik sama sekali. Pengamen kedua, bernyanyi dengan diiringi gitar, dan pengamen ketiga bernyanyi diiringi sebuah gitar yang dipadukan dengan harmonika yang dimainkan dengan apik. Pengamen mana yang akan mendapatkan apresiasi lebih dari anda?

Tentunya, mayoritas dari kita memilih pengamen ketiga yang akan mendapatkan apresiasi yang lebih. Mengapa demikian? Dalam konteks ini aku melihat bahwa apresiasi yang akan diberikan tergantung dari bagaimana dan seberapa besar upaya untuk mendapatkan apresiasi.

Pengamen ketiga paham bahwa untuk dihargai lebih, dia harus menampilkan sesuatu yang lebih baik dan berbeda dari kebanyakan orang. Lebih jauh lagi, mestinya dia juga harus menghilangkan stereotip atau kesan-kesan yang negatif tentang dunia pengamen. Pengamen itu tidak bermodal, suaranya jelek, gaya bernyanyi amatiran, suka memaksa jika tidak dikasih uang, tidak sopan, kumuh dan kesan negatif lainnya, adalah kesan negative yang harus dihapuskan dari dunia hiburan jalanan.

 

Menjadi pengamen kok harus susah begitu, layaknya penyanyi terkenal saja…! Mendingan sekalian disarankan harus bawa keyborad, drum, atau diiringi orkestra Adi MS sekalian… Dasar sableng..!

 

Apakah itu mustahil? Tidak..!. suatu saat aku beranjak pulang naik bus jurusan Tj.Priok – Balaraja, di Kebon Jeruk, beberapa anak muda naik ke atas bus dengan pakaian trendy dan gaya terkini. Dari penampilan mereka jelas terlihat bukan gelandangan apalagi mencari uang karena kelaparan, namun mereka membawa alat musik dari mulai keyboard non elektrik, gitar, gendang, bass akustik, dan mereka ternyata mengamen di bis yang aku naiki.

 

Para Pemuda itu memainkan musik dan lagi dengan atraktif layaknya sedang menggelar konser di dalam bus. Mereka berhasil menyulap suasana bus menjadi menyenangkan. MP4 yang biasanya setia menemani kedua belah kupingku, kini harus kutanggalkan sementara. suasana macet perjalanan tak lagi membebani perasaan saat itu.

 

Lalu, dengan penampilan yang tidak kumal dan tidak mengiba mereka akan gagal meraih uang pada penumpang? Mengejutkan, aku melihat topi vokalisnya penuh dengan uang ribuan dan beberapa keping logam saat datang menyodorkannya padaku, dan aku yang biasa merogoh kocek untuk mencari logaman, kini sukarela mengeluarkan lembar seribuan.

Fenomena ini menjadi novum bahwa masyarakat Indonesia tidak melulu sensitif dan penuh iba bagi mereka yang memelas, kini nilai rasionalitas dan objektif terhadap penghargaan hasil karya mulai kembali tumbuh.

Pada sudut pandang yang lain, kita juga bisa berkata bahwa ”Hidup butuh perjuangan”. Mereka yang mau mengeluarkan modal lebih besarlah yang akan menuai hasil yang lebih besar. Meminjam kata para pemancing ”Ikan Besar tidak akan didapat dengan bermodal Umpan yang kecil. kalaupun ada, pasti ikan bego atau ikan mabuk yang nyantol di kail kita”.

Apakah semua cita-cita dan keinginan harus bermodal besar? Jawabannya Ya.. tapi ingat bahwa modal yang dimaksud tidak mesti modal uang atau harta, melainkan gabungan dari banyak unsur modal dalam hidup. Totalitas, Kejujuran, keberanian, kesungguhan, kreatifitas dan semua sikap hidup yang positif sangat diperlukan untuk bisa sukses dalam menjalani hidup menggapai cita-cita.

Orang sukses selalu memiliki modal hidup yang sangat besar kendati modal uang yang dimilikinya tidaklah banyak. Thomas Alfa Edison, lahir dari keluarga miskin yang harus membuatnya bekerja untuk memenuhi modal untuk penelitiannya. Ketekunan, kesungguhan, kreatifitas dan jiwa besarnya telah menjadikannya penemu yang produktif dengan 2000 jenis penemuan yang dipatenkan atas namanya, salah satu yang fenomenal yaitu Lampu pijar.

Abraham lincoln, Thomas Jefferson, Hittler, Masolini, dan banyak tokoh politik lainnya juga berasal dari keluarga yang tidak kaya. Soekarno, Soeharto, Habibie adalah tokoh sukses Indonesia yang juga bukan berasal dari keluarga kaya, namun memiliki modalitas sikap mental positif yang luar biasa.

Lantas apakah kita akan menyerah dan bersikap inferior saat menghadapi kenyataan bahwa kita bukan terlahir dari keluarga yang berada dan berstatus sosial yang tinggi? Modal terbesar yang dimiliki oleh setiap orang bukanlah modal berupa harta, kekayaan dan status yang diturunkan melalui orang tua, melainkan dari modal berupa sikap mental positif yang kita ciptakan sendiri. siapkah kita untuk sukses?

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About abdullatiefku

Check Also

Katak Tuli

Katak Tuli     pondok-harmoni.com – Sebulan yang lalu, entah mengapa aku rindu pada Profesor …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *