Breaking News
Home / Tulisan / Manajemen / Salah Jalan

Salah Jalan

SALAH JALAN

Jakarta, Rabu 26 Agustus 2009.

Oleh Abdul Latief

Dua orang mabuk sedang mengemudi lewat jalan tol. Ketika menghidupkan radio, mereka mendengar sebuah pengumuman: “Para pengendara diharap waspada, ada sebuah mobil berjalan kencang melawan arah di jalan tol.”.

Orang mabuk di samping pengemudi menengok ke temannya dan berkata heran, “Sebuah mobil? Kayaknya ada ratusan mobil yang melawan arah tuh…”.

Ha… ha… dalam hidup seringkali kita tak sadar dengan posisi yang sedang kita jalankan. Selalu merasa benar dengan apa yang kita lakukan, tanpa pernah menggubris peringatan orang lain. Entah apa yang dapat menyadarkan kita, sepertinya sebuah teguran keras akan sangat bermanfaat untuk kita.

Dulu saat SMP, hampir seluruh teman dekatku mulai menghisap rokok, serta  menjajaki pacaran ala cinta monyet. Seringkali mereka membujukku menghisap rokok atau mulai mencoba mendekati seorang gadis untuk berpacaran. Aku memang termasuk orang yang sadar untuk tidak merokok dan pacaran saat SMP, tapi ketika seluruh teman dekatku melakukan hal itu, aku malah merasa menjadi orang yang aneh diantara segerombolan orang-orang normal.

 

Temanku yang gemas dengan prinsipku seringkali menganggapku tidak normal, bahkan mereka sempat memaksaku untuk menunjuk seorang gadis untuk dipacari, lalu mereka yang akan berusaha untuk membantuku, walhasil aku hanya berujar “udahlah… gak usah repot-repot, mendingan gw ngerjain PR matematika kalian semua, ketimbang harus pacaran…”. Tapi mereka tak kunjung lelah untuk terus membujukku, maklumlah dalam hidup biasanya orang selalu ingin tampil seragam dan kompak, mereka yang tampil beda biasanya dianggap tidak normal. Seperti analogi Kahlil Gibran “ Jika semua dunia sudah gila, maka orang waraslah yang menjadi orang gilanya”.

 

Di Lembaga-lembaga yang korup, konon manusia jujur dianggap salah langkah dan biasanya amat dibenci karena tidak sejalan dan akan menghambat kepentingan para koruptor. Maka, tak jarang mereka yang jujur akan berusaha disingkirkan oleh rekan sejawatnya. Salah satu fenomena menarik di lembaga tertinggi kita adalah saat para anggota dewan dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dikecam oleh sesama anggota dewan saat beberapa kali mengembalikan dana yang mereka anggap bukan haknya. Jadi, siapa yang salah jalan, mereka yang mengembalikan uang, atau mereka yang mengecam?

 

Dosenku, Prof.Burhan Bungin yang dibesarkan di sebuah lingkungan pantai, sangat akrab dengan makanan laut yang segar, sehingga pada suatu kesempatan beliau menuturkan sebuah tips tentang cara memilih ikan yang segar. Menurutnya, ikan itu yang pertama kali akan busuk adalah kepalanya, lalu akan terus menjalar ke badan hingga buntut. Jadi, bisa dipastikan bahwa jika kepala ikan masih segar yang ditandai dengan ingsang yang merah segar dan tidak busuk, maka seluruh badan ikan hingga buntutnya pasti segar. Demikian juga jika buntutnya saja sudah busuk, pasti kepalanya sudah busuk lebih dahulu.

Teori ikan ini, dianalogikan juga oleh Prof.Bungin terhadap manajemen sebuah lembaga. Menurutnya, jika pegawai tingkat rendahnya saja sudah bermental buruk, maka sudah diindikasikan bahwa pimpinannya, yang notabene sebagai kepalanya juga bermental buruk. Lalu, bagaimana dengan lembaga tempat kita bekerja? Bagaimana dengan lembaga pemerintahan kita? Bagaimana juga dengan lembaga penegak hukum di negara kita?

Cerita lain tentang salah jalan, Beberapa hari yang lalu saat mengendarai sepeda motor, aku kena tilang. Aku memang bersalah karena mengambil jalan pintas di tempat yang tidak seharusnya. Tanpa banyak basa-basi aku langsung mengaku bersalah dan meminta slip tilang berwarna biru. Sehingga aku harus bayar uang tilang di bank, lalu mengambil STNK yang ditahan di kepolisian.

Aku memang salah jalan, sehingga layak mengakui dan menerima surat tilang, namun mendengar ceritaku yang harus repot-repot mengurus surat tilang ke bank dan kantor polisi, beberapa teman menanggapinya dengan nada seragam “Kenapa Gak damai aja, paling cuma bayar ceban atau noban…!* ketimbang harus repot dan malah lebih mahal klo harus tilang resmi…”. Nyaris tak ada yang mendukung tindakanku melalui jalur resmi.

Ternyata tanggapan yang sama aku dapat saat harus bayar tilang di Bank, petugas teller dengan lugas berujar “Slip Biru ya pak…? wah jarang-jarang pak ada yang bayar pakai slip biru..”.

Pun, terulang lagi di Satlantas, saat aku bertanya pada petugas parkir di mana tempat penebusan STNK tilang, dan apakah harus antri lama?. Petugas parkir menjawab sambil tersenyum geli “Slip biru ya? Ha.. ha.. gak akan lama kok pak, jarang banget yang ditilang kayak bapak, tuh tempatnya… pasti kosong yang antri…!”. Ternyata memang benar, tak ada seorangpun yang antri, di sana hanya ada beberapa petugas yang sedang berbincang santai. Apakah aku telah salah jalan juga dengan memilih slip biru? yang jelas aku akan tetap meminta slip biru kalau ditilang, toh tidak harus antri karena jarang ada yang salah jalan sepertiku.

Salah jalan memang seringkali terjadi sangat ironis. Di kota besar seperti Jakarta, para pengendara sepeda motor mayoritas mengantri lampu merah jauh di depan garis putih lampu merah. Pernah suatu kali aku berbaris di belakang garis putih, lantas seorang pengendara lain mengklakson dari belakangku berkali-kali dan menunjuk ke arah depan seraya mengisyaratkan “Antrilah di depan daris putih seperti pengendara lain..! Anda telah menghalangi jalan saya, minggirlah..!” aku hanya mengurut dada, dan menyingkir memberi jalan untuknya. Sebenarnya siapa yang salah jalan?

Belum lama ini, Prita Mulya Sari yang berkonflik dengan RS.OMNI international, telah menghebohkan masyarakat kita. Seorang pasien yang mengeluhkan buruknya pelayanan kesehatan yang diberikan terhadapnya, harus menerima hukuman kurungan tanpa bisa berbuat apa-apa. Alih-alih menanggapi dengan arif dan menyelesaikan complain pasien, RS.OMNI dengan segala kedigdayaannya malah balik menyerang dengan garang. Sebenarnya siapa yang telah salah jalan ?

Di dunia yang lebih luas, Amerika serikat menyerbu Irak dengan dalih memiliki senjata biologis pemusnah massal, walhasil ratusan ribu orang tewas, dan jutaan lainnya menderita akibat perang hingga kini. Alih-alih mengaku meminta maaf dan memulihkan kondisi selepas tak terbuktinya senjata biologis tersebut, Amerika malah mengklaim telah menyelamatkan masyarakat Irak dari Tiran yang menyiksa, padahal siksaan dan penderitaan yang mereka terima lebih buruk ketimbang sebelum invasi amerika ke Irak. Sebenarnya siapa yang salah jalan?

Israel yang mengikis dan merebut wilayah bangsa palestina, menyiksa dan membunuh semena-mena penduduk palestina, tetap mendapat dukungan senjata dan keuangan dari para sekutunya.  Jangankan mendapat sanksi atau hukuman dari PBB, mendapat kecaman atau teguran saja tidak. Lantas siapa yang telah salah jalan?

Osama Bin Laden, konon didakwa bersalah atas tewasnya ribuan orang saat Pemboman WTC 911. Lagi-lagi demi mengejar seorang osamah, maka ratusan ribu penduduk afganistan meninggal dunia, dan jutaan lainnya menderita hingga kini. Lantas siapa yang telah salah jalan?

Terakhir, aku ajak kita semua untuk mengingat kisah tentang hakim agung Syafiuddin, yang berpegang teguh pada prinsipnya dalam menegakkan keadilan bagi siapapun. Setelah tugas beratnya rampung dalam memutuskan hukum bagi mantan penguasa di Indonesia, akhirnya beliau harus meregang nyawa dihakimi secara brutal oleh orang yang dihakiminya secara adil. Lalu, siapakah yang salah jalan?

Wallahu A’lam Bish Shawab.

 

 

*) sepuluh ribu rupiah atau dua puluh ribu rupiah.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About Admin

Check Also

Sel Perubahan Perilaku

Sel Perubahan Perilaku.   pondok-harmoni.com – Hari ini sangat sibuk sekali, senin yang sibuk diawali …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *