Breaking News
Home / Tulisan / Spiritual / Seberapa Ikhlas

Seberapa Ikhlas

 

Oleh Abdul Latief

Beberapa pekan yang lalu, saat menghadiri pernikahan seorang kawan, aku bertemu dengan Iyan sahabat lama yang sangat piawai berpidato dan seringkali menjadi partnerku berdiskusi mengenai nilai dan hikmah hidup. Kali ini kami kembali berbincang tentang perkembangan kami masing-masing, berkali-kali sentilan lontaran hikmah kuserga dari tuturan yang ia kemukakan padaku. Salah satu perbincangan yang terpatri permanen di hatiku adalah saat Iyan bercerita mengenai keikhlasan kita untuk bersedekah.

 

“Dulu, saat masih mencari sesuap nasi saja sangat sulit, aku selalu berusaha untuk tetap bersedekah. Saat itu sedekah terasa begitu indah dan menyenangkan, betapa kelontang buku uang receh yang aku ceploskan ke dalam kotak amal terasa merdu bak nyanyian pengiring menuju gerbang surga. Terlebih lembar ribuan yang aku sisihkan ke nenek pengemis di  pinggir jalan membuatku terharu seiring lontaran doa yang terucap dari bibir kelu dan siratan kegembiraan sang nenek. Namun seiring bertambahnya rezeki yang mengalir dan kemudahan yang kuterima, semua kebiasaan yang selama ini aku patenkan, sedikit demi sedikit mulai terkikis logika rasionalitas dan dalih yang semakin menjauhkannya dari kenikmatan untuk berderma” tutur Iyan panjang lebar, sedangkan aku hanya mendengar sambil mengernyitkan dahi dan sedikit senyum terkulum untuk menggali lebih dalam cerita yang pastinya akan Iyan lanjutkan dengan milihat mimic mukaku yang penasaran.

“Sudah tepatkah uang yang aku salurkan bagi para pengemis di pinggir jalan?, jangan-jangan mereka tidak layak menerima karena menjadikan mengemis sebagai sarana pekerjaan dan dalih kemalasan?! . logika rasionalitas seperti ini seringkali membebani pikiranku saat ini setiap kali akan berderma. Atau dalih ‘nanti sajalah, aku kumpulkan dulu agar uang sumbanganku nanti semakin besar dan terasa manfaatnya…’  hal ini juga semakin membuatku merasa berat untuk mengucurkan rezeki yang bilangannya semakin besar. Begitulah Tif, kini aku semakin jauh dari kenikmatan untuk berbagi pada sesama”. Ujarnya sambil mengalihkan pandangan dariku menuju titik terjauh di langit yang bisa dijangkau oleh focus di matanya.

Aku membiarkannya merenung beberapa saat untuk menatap langit yang baru saja menumpahkan beban airnya ke bumi, “Bisakah kamu mengingat, kapan pertama kali merasakan betapa nikmatnya saling berbagi?”, aku mencoba memecah lamunanya pada focus yang lebih dalam.

Iyan kini menarik napas sangat dalam, kemudian mengalihkan pandangannya lagi padaku, yang kubalas dengan senyum terindah yang pernah aku buat untuknya. Iyan mematung seraya menatap dalam mataku yang masih penuh senyum, “ Itu semua bermula , ketika aku kuliah dulu…”  Iyan membuka perbincangan dengan siratan senyum yang mulai terkembang di layar bibirnya.

“Saat itu di kantongku hanya tersisa uang Rp.10.000,- aku sendiri sangat bingung bagaimana bisa bertahan hidup, sedangkan menunggu kiriman uang jajan dari orang tua masih seminggu lagi. Lantas terpikir olehku untuk menagih janji Tuhan bahwa IA akan melipat gandakan rezeki bagi mereka yang berderma. Lantas aku segera mencari kotak sumbangan terdekat, untuk aku jebloskan uang tersebut sebagai bentuk sedekah bagi mereka yang membutuhkan. Kini tak sepeser uang pun aku miliki, tapi yang jelas aku begitu yakin bahwa aku bisa bertahan hidup tanpa harus mengemis atau mencuri” Iyan bercerita sambil melempar jangkar senyum yang lebih dalam dari bibirnya.

Iyan melanjutkan ceritanya, “Lantas aku pulang ke kamar kostku untuk beristirahat dan  menghemat energy agar lapar tak segera menghinggapi. Di tengah lelap tidurku siang itu, pintu kamar kostku diketuk oleh seseorang. Ternyata ia adalah temanku yang datang bertamu. Tak dinyana, kehadirannya di kamar kostku untuk mengembalikan uang yang pernah dipinjam dariku beberapa bulan yang lalu sebesar Rp.150.000,-. Aku sendiri hampir lupa bahwa temanku masih mempunya utang padaku, aku terhenyak dalam kamar kostku menggenggam uang pembayaran utang, aku tak menyangka bahwa aku yang menyumbang atas dasar keputusasaan ini mendapatkan teguran yang begitu manis dari Nya, apalagi  jika aku menyumbang dengan ikhlas, pasti lebih dari ini yang akan kudapat. Sejak saat itu aku berikrar akan menyisihkan sebagian rezeki yang aku terima untuk kepentingan sesama.  Terima kasih tif,  sudah mengingatkanku akan cerita yang hampir kulupakan itu, semoga aku akan kembali giat berbagi untuk sesama” . Iyan menutup ceritanya dengan tersenyum penuh arti.

“Luar biasa… pengalamanmu sangat mengesankan, betapa teguran Tuhan teramat halus dan penuh hikmah.. bukan hanya buatmu, tapi juga buatku yang mendengarkan ceritamu..” ucapku dengan tulus dan takjud atas pengalaman yang Iyan ceritakan padaku.

“Itu belum seberapa Tif, aku masih belum sampai pada tahapan memberi penuh ikhlas, sangat banyak cerita tentang mereka yang mengorbankan diri segala untuk membantu sesama, aku mengalami itu sebagai teguran bagiku yang masih meragukan  janji Tuhan. Memberi bukanlah seberapa besar yang dapat kita berikan, melainkan berapa besar perjuangan dan keikhlasan kita untuk bisa memberi. Masih ingat kisah lama tentang nenek Pemotong rumput?“ kali ini Iyan bertanya padaku.

“Mhmh….. wah, aku gak ingat tuh…, bagaimana ceritanya?”

“Ada seorang nenek yang bekerja sebagai pemotong rumput untuk hewan milik juragan ternak. Ia berkerja dari pagi hingga siang, saat pulang memotong rumput ia selalu mampir ke sebuah mesjid yang dilaluinya untuk menunaikan shalat. Selepas shalat ia menyapu halaman mesjid yang cukup luas untuk membersihkan daun kering dan sisa sampah yang berserakan. Si nenek melakukan hal itu setiap harinya tanpa pernah merasa murung kendati peluh bercucuran dari keningnya yang renta di makan usia, bahkan ia selalu tertawa gembira selepas membersihkan semua sampah, kemudian kembali menyetorkan rumput untuk hewan ternak milik juraganya. Suatu kali, melihat kebiasaan sang nenek menyapu halaman mesjid, sang penjaga mesjid merasa iba pada si nenek dan bertanggung jawab untuk membersikan semua sampah sebelum nenek tiba. Saat si nenek sampai di mesjid dan melihat semua daun kering dan sampah sudah bersih, ia menangis dan terduduk layu. Saat ditanya kenapa nenek menangis? . Dengan tersedu si nenek menjawab ‘saya tidak lagi memiliki harga untuk disumbangkan pada orang lain, tenaga saya juga tak cukup kuat untuk meringankan beban saudara-saudara kita, hanya menyapu halaman ini yang bisa nenek perbuat agar setiap orang bahagia dan senang beribadah, itulah sumbangan nenek satu-satunya…’. Setelah itu sang penjaga tak pernah lagi menyapu halaman mesjid untuk membiarkan sang nenek bergembira dengan sumbangan kebajikan yang bisa dia berikan ”.

“Wow.. luar biasa… aku ingat cerita itu pernah aku baca juga di buku ‘Sate Rohani’ karya Ahmad Sobary..” aku merespon ceritanya dengan mata berbinar, seraya berdecak kagum atas hikmah yang kembali Iyan taburkan untukku.

“Aku sendiri lupa darimana cerita itu kudapat, yang jelas kita pernah membahasnya dulu…, satu hal lagi tif yang aku belum bisa lakukan..”.

“apa tuh?”

“Setiap kali akan menyisihkan rezeki bagi orang lain, selalu saja aku longok kantong atau dompetku untuk mencari uang dengan pecahan paling kecil atau menengah, ingin sekali rasanya aku mengambil secara spontan tanpa peduli pecahan apa yang aku berikan. Atau saat akan menyumbang pakaian untuk korban bencana alam, selalu saja aku memilih untuk menyumbang pakaian bekas, padahal apa salahnya sesekali aku menyumbang pakaian baru… itulah yang baru bisa aku lakukan, Keikhlasanku baru sebatas uang receh dan pakaian bekas….” Iya mengakhiri perbincangan ini dengan menyalami aku, yang kubalas dengan mendekap tangan iyan sedemikian kuat seraya berterima kasih atas gemerlap hikmah yang ia mandikan kepada seluruh hati dan jiwaku.   semoga aku dapat merasakan nikmatnya berbagi dan keihklasanku tak sebatas uang receh dan pakaian bekas.

Abdul Latief

 

About Admin

Check Also

Celanaku Kendor Neh…!

Celanaku Kendor Neh…! Jakarta, 4 September 2008 Oleh Abdul latief “Kalau bulan puasa gini, mesjid …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *