Breaking News
Home / Tulisan / Manajemen / Sepenuh Hati

Sepenuh Hati

SEPENUH HATI.

 

pondok-harmoni.com – “Kalau Dahlan Iskan (meneg BUMN) ada di bandara Soekarno-Hatta siang ini, pasti beliau akan geram melihat antrian panjang penumpang pesawat di pintu masuk pertama sebelum counter check in..!!” Gumamku.

 

Betapa tidak, pintu masuk pertama pemeriksaan tiket dan barang menggunakan mesin X-Ray di terminal 2F, yang diaktifkan hanya 2 mesin dari 4 mesin yang tersedia di pintu itu. Itupun pemeriksa X-ray malah asyik berseda gurau dengan rekan di sampingnya, seakan acuh dengan apapun isi tas penumpang.

 

Belum lagi pemeriksa tiket tak sedikitpun memberikan senyumnya, malahan menunjukan wajah garang bak serdadu yang bersiap perang.

 

Masuk lebih dalam, saat mendatangi petugas check in untuk mendapatkan boarding pass, alih-alih berdiri untuk menyambut 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), sang petugas hanya mendongak dari kursinya yang lebih rendah dari penumpang sambil mengambil tiket yang disodorkan penumpang. “Ada bagasi pak?!!”  “Air port tax, 40 ribu Pak..!!” Hanya 2 kalimat itu yang terucap selama interaksi.

 

Dalam hatiku, ingin rasanya mendengarkan ucapan ramah penuh senyum hangat seraya berkata “Ini boarding Pass nya Pak Latief, bapak duduk di kursi 14F, nanti bisa menunggu di ruang tunggu F4,  pesawatnya On schedule, terima kasih Pak Latief, selamat menikmati perjalanan bersama maskapai kami..”. Tapi barangkali standard itu terlalu tinggi, melebihi tingginya jangkauan terbang maskapainya.

 

Belum cukup sampai di sana, saat masuk menuju ruang tunggu, kembali ada pemeriksaan boarding pass oleh petugas dan pemeriksaan barang dengan mesin X-Ray, lagi-lagi yang kutemui hanya wajah sangar tanpa senyum, semua seakan sepakat menjadikan bandara ini menjadi angker.. Hi.. Seram..!!!

 

Konyolnya lagi, aku yang berencana terbang ke Balikpapan berdua dengan Ilham temanku, ternyata mendapatkan informasi di print tiket yang berbeda, aku harus menunggu di ruang 4F, sedangkan Ilham di ruang 1F. Akhirnya kami harus memeriksa kedua ruang tunggu itu, karena petugas tak ada seorangpun yang stand by di depan pinntu ruang tunggu, sedangkan layar monitor informasi di 4F dan 1F juga tak mengindikasikan tujuan Balikapapan.

 

Di ruang terminal 4F kami bertanya ke petugas pemeriksa tiket, apakah kami di 1F atau 4F? “Sebentar Pak, kami periksa. Iya Pak, ternyata di sini, 4F” jawab petugasnya yang juga tanpa senyum.

“Kenapa kok tidak jelas harus naik melalui pintu mana?” Ujarku.

“Gak tau nih Pak, tadi juga banyak penumpang ke surabaya pada datang ke sini, karena diinformasikan ke sini, padahal bukan di sini.”. Jawabnya tanpa menoleh padaku dan tetap memasang wajah asem tanpa senyum.

 

Di ruang tunggu Bandara, sambil mengirim beberapa data ke kantor, aku mendengar beberapa kali pengumuman yang menginformasikan panggilan keberangkatan melalui microfon. Pengumuman itu sangat terasa mengganggu, bukan karena dilakukan  berulang-ulang, melainkan sang pemberi info memanggil dengan nada yang terdengar sangar, keras, cepat dan terburu-buru, sungguh sangat tidak nyaman didengar. Jadi teringat pengumuman pertandingan bola di kampung-kampung dengan menggunakan mobil dan pengeras suara berkeliling kampung.

 

Kalau ini terjadi Bandara international Ibu Kota, bisa dibayangkan yang terjadi di kota lain. Padahal bandara international ini adalah tampak depan negara kita, para pengunjung dari negara lain datang menginjakan kaki pertama melalui bandara ini. Dan konyolnya mereka disuguhkan sambutan berwajah lesu dan sangar kurang bersabat. Bukankah Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah?

 

SENYUM dan KERAMAHAN tak butuh seni, yang dibutuhkan hanya KETULUSAN HATI.

 

Apa yang bersumber dari ketulusan hati akan berbuah ketulusan dari siapapun yang menerimanya.

 

Percuma membuat prosedur dan aturan yang lengkap tentang pelayanan, jika para pelakunya  meniadakan hati, jika itu terjadi hanya menciptakan para pelaku  layaknya robot. Sesuatu yg datang tidak dari hati, tidak akan sampai di hati.

 

Sebagai makhluk sosial, senyum tulus dan keramahan tidak hanya berguna dalam aspek pelayanan, melainkan hampir semua aspek dalam sisi kehidupan kita mutlak membutuhkannya. Saat berteman, bertetangga, bekerja, berumah tangga, dan setiap kali berinteraksi dengan setiap orang.

 

Senyum tulus dan keramahan yang kita berikan tidak hanya sehat bagi batin kita, melainkan juga akan menyejukan hati orang lain. Tak percaya? Cobalah..!!!

 

Lagi-lagi, Apa yang bersumber dari ketulusan hati akan berbuah ketulusan dari siapapun yang menerimanya.

 

Lantas sudahkah kita bersikap ramah dan terseyum tulus pada setiap orang yang kita temui hari ini?

Oleh Abdul Latief, WTS

WTS: Writer Trainer Speaker. Penulis telah menerbitkan beberapa buku dan aktif di pengembangan sumber daya manusia, training public speaking, leadership, managemen, motivasi, dan beragam program lainnya bagi termasuk menyemai pengembangan para pelajar dan mahasiswa di Banten dengan program Early Leadership dan Early Motivaton.

@Ruang tunggu 4F Bandara Soekarno Hatta. 18 september 2012.

follow twitter: @pondok_harmoni

Instragram : @abdullatiefku & @harmonydailyquotes

Email : pondok.harmoni@gmail.com

About abdullatiefku

Check Also

Sel Perubahan Perilaku

Sel Perubahan Perilaku.   pondok-harmoni.com – Hari ini sangat sibuk sekali, senin yang sibuk diawali …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *