Breaking News
Home / Tulisan / Seni Kehidupan / Stress, Berbahayakah?

Stress, Berbahayakah?

Stress, Berbahayakah?

 

 

pondok-harmoni.com – Kita telah memasuki bulan Mei, bulan ini ini bulan yang menarik, karena bulan ini selalu diawali dengan riuhnya teriakan kaum buruh  se-dunia. May Day… Hari buruh dunia.

 

Serunya lagi, esoknya tepat tanggal 2 seperti hari ini, adalah hari pendidikan nasional. Aku dan teman-teman pernah menutup kampus dan ‘menyandera’ rektorat demi menurunkan biaya kuliah dan menuntut kenaikan gaji dosen dan pegawai kampus.

 

Dua tuntutan yang sejalan dengan salah satu tujuan didirikannya negara ini “Mensejahterakan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa…” Syukurlah saat itu biaya kuliah turun dan aku disalami oleh segenap insan kampus karena gaji mereka bisa naik.

 

Kaum buruh dan siswa di sekolah memiliki beberapa kesamaan, antara lain mereka sama-sama rawan stress. Buruh stress dengan kehidupan yang serba pas-pasan, siswa stress karena ujian nasional. Ha..ha..

 

Bicara mengenai stress, aku teringat meeting rutin bulanan dengan tim kami di Organization, People, & Culture development. Meeting yang sangat menarik setiap bulannya, karena kami berkomitmen, setiap meeting harus memiliki value lebih. Harus ada ide, inovasi, improvement, dan knowledge baru yang kami lengkapi. Sehingga meeting bukan ajang buang waktu tanpa keputusan, melainkan meeting yang menghasilkan WOW..!!!!

 

“Jeans, aku kok klo pusing, kesel, atau banyak kerjaan malah doyannya makan.. makan.. dan makan… Jadinya aku makin gendut gini deh.. Ha ha..” Ujarku di tengah meeting pada Jeans Esparanci, seorang psikolog dan rekan baru di tim, yang selasa depan kami tunjuk mengisi Learning Forum dengan tema ‘Membaca karakter, melalui tanda tangan’.

 

“Ha.. Ha… Itu namanya gembul Mas…ha ha..” Ujarnya lepas.

 

“So..?” Tanyaku dengan wajah penuh harap kelanjutan jawabnya selain membicarakan aku dan Jeans yang ternyata sama-sama gembul dan hobby makan ini.

 

“Pada dasarnya, itu salah satu cara Mas Latief untuk menghilangkan stress, yaitu melawan stress dengan cara makan, orang lain mungkin dengan cara mendengarkan musik atau joged”.

 

“Jadi aku stress Jeans…?”

 

“Loh, stress itu gak semuanya negatif mas… Stress itu adalah respon terhadap hasil penilaian kita mengenai suatu hal yang sifatnya mengancam atau menantang bagi kita.. jadi, stress muncul kalau kita menilai suatu kejadian itu menantang atau mengancam, bukan kejadian itu sendiri…”

 

“Maksudnya?” Tanyaku yang juga diikuti teman lainnya yang ingin mencari manfaat dari diskusi ini.

 

“Jadi gini, kalau banyak kerjaan, yang bikin stress bukan kerjaan itu, tapi bagaimana kita menilai atau memilih stress atau tidak saat menjalani banyak kerjaan atau masalah itu..”

 

“Menurut penelitian,  orang pesimis akan lebih sering stress ketimbang orang optimis. Selain itu, orang pesimis juga lebih sering kena sakit akibat stress dibandingkan orang yang optimis. Ini karena orang optimis lebih baik dalam merespon stress ketimbang orang yang pesimis…”.

 

“Oh….” Jawabku mengerti.

 

“Dan satu lagi Mas…”

 

“Apa tuh..?”

 

“Stress gak melulu berakibat negatif. Ada dua macam stress, Distress dan Eustress. Distress adalah stress yang berakibat negatif, bahkan bisa bikin sakit atau kesulitan konsentrasi dan performa kerja menurun..”

 

“Trus, Eustress berarti kebalikannya?”

 

“Iya Mas, Eustress adalah stress yang memiliki akibat positif, lawan dari distress. Eustress justru bisa meningkatkan performa kerja seseorang, Orang tersebut menjadi bersemangat dan termotivasi…”

 

“Kalau aku makan karena  energi dipakai dan ingin cepat menyelesaikan kerjaan berarti itu Eustress, atau stress positif ya? Ha.. Ha..” Aku semakin semangat untuk mencari alasan dari kegembulanku makan..

 

“Bisa dibilang begitu sich mas…, intinya positive thinking..!!!, tapi hati-hati, harus terkontrol juga, jangan sampai pola makan dan makanan malah yang membuat diri kita gak sehat..”. Ujarnya sambil menyeruput kopi, dan seperti mencari sejumput snack untuk disantap.. Ha.. Ha..

 

Meeting sudah kelar, lalu berlanjut dengan sharing knowledge berupa interviewing skill dan brainstorming lainnya yang semuanya dibumbui dengan canda namun tetap serius, agar tak stress!! Seru bukan??!!!

 

Lantas, di bis kota ini aku melihat wajah-wajah lelah penuh beban, mereka juga sebagian besar adalah kaum buruh sepertiku. Di TV, para kaum buruh tak semuanya terlihat sedih, malah selepas demo, mereka berjoged dan bernyanyi bersama grup band Slank. Dan di para siswa yang mengikuti ujian nasional, tidak semuanya berteriak histeris karena stress..

 

Siswa yang putus asa dan menangis, karena mereka distress, akibat mental dan pengetahuan mereka yang belum siap. Atau buruh yang bunuh diri juga karena tak kuasa menahan beban yang menghimpit.

 

Solusinya? Positive thinking..!!! Terdengar klise, namun yakinlah hal itu powerfull.

Selamat mencoba..

 

@bus Primajasa jurusan Tj.Priuk-Merak. 2 mei 2012.

Oleh Abdul Latief, WTS

WTS: Writer Trainer Speaker. Penulis telah menerbitkan beberapa buku dan aktif di pengembangan sumber daya manusia, training public speaking, leadership, managemen, motivasi, dan beragam program lainnya bagi termasuk menyemai pengembangan para pelajar dan mahasiswa di Banten dengan program Early Leadership dan Early Motivaton.

follow twitter: @pondok_harmoni

Instragram : @abdullatiefku & @harmonydailyquotes

Email : pondok.harmoni@gmail.com

About abdullatiefku

Check Also

Hidup Kreatif

HIDUP KREATIF       “Untuk menjadi kreatif, kita harus terbiasa untuk tidak terbiasa”–Yoris Sebastian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *