Breaking News
Home / Tulisan / Seni Kehidupan / Super Camp

Super Camp

Super Camp.

Jakarta, 28 April 2009. Pukul 21.45 WIB.

Oleh Abdul Latief

Seekor tikus merasa hidupnya sangat tertekan karena takut pada kucing. Ia lalu menemui seorang penyihir sakti untuk meminta tolong. Penyihir memenuhi keinginannya dan mengubah si tikus menjadi seekor kucing.

Namun setelah menjadi kucing, kini ia begitu ketakutan pada anjing. Kembali ia menemui penyihir sakti yang kemudian mengubahnya menjadi seekor anjing.

Tak lama setelah menjadi anjing, sekarang ia merasa ketakutan pada singa.

Sekali lagi penyihir sakti memenuhi keinginannya dan mengubahnya menjadi seekor singa.

Apa yang terjadi? Kini ia sangat ketakutan pada pemburu. Ia mendatangi lagi si penyihir sakti meminta agar diubah menjadi pemburu. Kali ini si penyihir sakti menolak keinginan itu sambil berkata,

“Selama kau masih berhati tikus, tak peduli bagaimana pun bentukmu, kau tetaplah seekor tikus yang pengecut

Kisah tersebut pernah dikemukakan oleh ayahku saat berkumpul di ruang keluarga. Aku tak ingat konteks ayahku menceritakan hal tersebut, yang jelas ayahku termasuk orang yang tak pernah kehabisan bahan cerita, dongeng atau nasihat yang membangun jiwa kami anak-anaknya.

Malam ini, entah kenapa aku terbayang kenangan tentang ayahku dan nostalgia dengan cara ayah mendidik kami agar menjadi orang yang mempertahankan prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai harta yang paling berharga ketimbang harta dan posisi apapun di dunia.

 

Kalau anda pernah membaca buku Quantum Learning karya Bobbi DePorter & Mike Hemacky, dan buku Revolution Learning karya Dryden & Vos, dengan cara seperti itulah dasar-dasar pendidikan diterapkan padaku dan kakak-adikku.

Saatku kecil, kami tinggal di sebuah rumah yang memiliki halaman sekitar 600 meter persegi di Batu Ceper Tangerang, yang berbatasan dengan Jakarta Barat, disanalah kami harus menjalani kehidupan yang tak pernah lepas dari unsur pendidikan yang ditempakan ayah. Mengambil istilah dalam dua buku diatas, aku lebih senang menyebut rumahku sebagai ”Super Camp”.

Super Camp kami tidak terlalu besar, cukup menampung kami untuk berteduh dengan layak, namun dengan halaman rumah yang disisakan cukup banyak, ayah bereksperimen dengan banyak tanaman dan perangkat pendidikan yang memadai. Kami punya 3 pohon jambu dengan jenis yang berbeda, 5 pohon mangga yang juga dari jenis yang berbeda, pohon sirsak, kelapa, pohon pisang, pohon cengkudu, bahkan pohon lobi-lobi kami punya. Semua pohon-pohon itu ayah sendiri yang menanamnya, bahkan ayah sempat menanam beberapa pohon tebu, singkong, jagung dan tanaman apotik hidup dan bumbu dapur di sana. Selain itu, ayah juga membuat kolam ikan yang khusus diperuntukkan untuk dipancing oleh kami.

Uniknya, semua pohon yang ditanam ayah itu tidak dalam porsi yang banyak. Tebu, singkong dan jagung ditanam hanya beberapa batang saja. Yang jelas dari sana kami mengenal banyak mengenal tentang cara bercocok tanam dan bagaimana nikmatnya kemandirian. Ayah selalu mengajak kami saat menanam jagung dan tanaman lainnya, termasuk mencabut singkong hasil panen, membakar jagung, menghisap batang tebu dan menggoreng ikan. Semua dijalani dengan suasana hati gembira sambil tetap berkelakar dan bercerita tentang banyak hal yang terus mengalir memenuhi batin dan jiwa kami. Jika dihitung secara materiil, membeli jagung dan singkong di pasar jauh lebih murah dibanding usaha kami untuk menanamnya sendiri, namun menurut ayah itulah cara agar kami selalu menghargai setiap tetes keringat yang kami keluarkan, itu jauh lebih nikmat.

Seringkali aku merasa bahwa ayah termasuk orang yang kurang kerjaan. Pasalnya, di rumah kami sudah tersedia pompa listrik yang dapat mengaliri air untuk mandi dan setiap keperluan hidup lainnya, namun sejak jam 5 pagi selepas shalat subuh ayahku selalu menimba air di sumur timba atau memompa air melalui pompa batang manual yang sengaja dibuat ayah di belakang rumah.

Tidak sampai disitu, selepas memompa air, ayah membangunkan kami dan menyuruh kami mandi sebersih-bersihnya, seakan tak rela ada setitik kuman-pun yang menempel di tubuh anaknya, kami semua mandi hingga bersih dengan air yang dipompa atau ditimba ayah, bukan dari pompa listrik yang bekerja Otomatis. Alasannya? Olahraga. Namun jauh dari sekedar olahraga, ternyata ayahku termasuk orang yang sangat menikmati manfaat dari setiap keringat yang dicucurkannya untuk keluarga. ”Mereka anak kita, maka kita yang bertanggung jawab mengurusnya hingga mereka siap dan mandiri. Kita yang paling tahu apa yang terbaik untuk mereka, bukan orang lain. Saat ini kita mengurusi mereka dengan ikhlas, dan mereka tak akan pernah kehilangan rasa hormat dan kasih sayangnya pada kita dan membagikan rasa hormat itu pada setiap orang yang mereka temui.” begitu yang pernah diutarakan ayah pada mamaku.

Sejak senin hingga jumat beliau sibuk bekerja, kami selalu tahu bahwa saat jam 17.30 ayah pasti akan pulang ke rumah, dengan suara kendaraannya yang khas, kami selalu bergegas menyambutnya di pintu gerbang dan membukakan gerbang rumah untuknya. Setelah memarkir kendaraannya, kami berebut untuk membawakan tas dan peralatan kerjanya. Ada yang membawakan tas, ada yang memanggul tangan kiri dan kanan ayah dan ada juga yang mendorong ayah dari belakang, sedangkan mamaku hanya tersenyum di ambang pintu rumah sambil tertawa geli melihat keakraban kami dan ayah. Satu hal yang tak pernah hilang, bahwa setiap ayah membawa oleh-oleh, maka kami tetap menjadikan oleh-oleh sebagai sasaran utama untuk disambut… ha.. ha.. dasar anak-anak..!.

Sesampainya di dalam rumah, tak jarang kami membukakan baju untuk ayah, sambil bercerita tentang kejadian di sekolah atau mendengar ceritanya hingga beliau bergegas mandi, berwudhu dan shalat maghrib berjamaah, ayah menjadi imamnya.

Setelah shalat maghrib kami semua tetap berkumpul hingga tiba waktu isya. Saat inilah waktu ayahku untuk mendongeng dan bercerita tentang banyak hal yang seakan tak pernah habis sumbernya, di moment ini kami gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah. Untunglah, saat itu channel TV masih sangat terbatas sehingga kami lebih menikmati kebersamaan sebagai nilai yang lebih berharga ketimbang terhipnotis di depan kotak gambar bernama televisi. Entah apakah hal seperti ini masih bertahan di sebuah keluarga zaman sekarang? yang jelas, dalam keluarga modern, TV telah menjadi anggota keluarga kehormatan yang jauh lebih banyak didengar ketimbang cerita polos seorang anak tentang pengalamannya di sekolah. Syukurlah ayah tak begitu.

Setiap sabtu-minggu ayah libur bekerja, waktu libur inilah yang kami gunakan untuk makan bersama, tamasya ke pantai, nonton bioskop, atau sekedar berkebun dan bermain di rumah. Kalau anda menyaksikan sinetron ”Keluarga Cemara”, seperti itulah gambaran kami menjalani hidup di SuperCamp, tak bergelimang materi, namun penuh hikmah di setiap fase kehidupan yang kami jalani.

Semuanya tak berjalan mulus memang, kenakalan, kemalasan dan keonaran yang biasa dilakukan anak seusia kami tetap tak bisa hilang. Bersimbah darah akibat berkelahi, terkena beling saat mengejar layang-layang, malas masuk sekolah, dipatil ikan lele saat memasukan tangan ke kolam lele, digigit lintah saat main hujan di tanah lapang, benjol terbentur tiang saat bermain bola di sekolah, bahkan pernah satu minggu aku tidak masuk sekolah akibat betis-ku robek saat loncat dari atas pohon jambu di depan rumah yang membuatku tercabik pinggiran pot bunga tajam, entah apa yang aku pikirkan saat meloncat, mungkin aku terobsesi menjadi seorang SuperHero yang dapat meloncat dari ketinggian, yang jelas goretan bekas luka itu masih tersisa dan menjadi bongkahan kenangan tersendiri bagiku dan pelajaran hidup yang sangat berarti dalam menempa mental dalam hidup.

Pelajaran lain yang aku dapatkan di SuperCamp adalah pelajaran tentang nilai kejujuran. Ayahku bilang, bahwa sekali kita berbohong maka kita akan menutupi kebohongan itu dengan kebohongan lainnya. Jika sekali saja berani berbohong, maka kita akan terbiasa berbohong dan tidak menganggap kebohongan sebagai dosa besar dalam hidup. Padahal dalam Islam dinyatakan secara tegas bahwa ” Berbohong adalah pangkal dari Dosa”.

Kalau kita mendengar tentang warung kejujuran yang ada di KPK atau beberapa sekolah, sesungguhnya pola serupa selalu diterapkan oleh di SuperCamp kami. Dalam SuperCamp, Mama, Ayah, dan kami semua, kerap menaruh uang di sembarang tempat. Di meja tamu, atas kulkas, samping TV, meja makan, dan di manapun yang dengan mudah diambil oleh siapapun diantara kami, seperti sudah menjadi kesepakatan bahwa kami tak diperkenankan mengambil satu rupiahpun tanpa izin. Kalaupun kami membutuhkannya, silahkan izin sebelum mengambil. Dan Alhamdulillah tak satupun dari kami melalaikan hal tersebut, hingga kini. Walaupun pada akhirnya, beberapa kali pola itu kecolongan oleh orang lain di luar kami yang tak tahan memegang prinsip kejujuran dalam dirinya saat masuk ke super Camp kami. ”Tak apalah, itu harga dari sebuah pelajaran tentang kejujuran, yang jelas tak satupun dari kita yang menggadaikan nilai kejujuran dengan nilai yang lebih rendah dari kejujuran.

Harga dari sebuah kejujuran lainnya juga dicontohkan ayah saat beliau harus berhenti bekerja demi mempertahankan kejujurannya. Saat itu ayah menjadi Kepala Departemen Logistik di sebuah perusahaan nasional, seperti pepatah ”ada gula, ada semut” saat itu posisi ayah termasuk ”lahan basah” untuk melakukan penyimpangan.  Godaan itu bertubi-tubi datang dari berbagai pihak termasuk rekan-rekan sekantornya. Mereka tak berhenti merongrong dan menggoda ayah dengan berbagai cara hingga cara yang tak etis, agar ayahku mau bekerjasama dengan mereka, akhirnya ayah merasa harus mengakhiri masa kerjanya ketimbang harus menggadaikan nilai kejujuran dalam dirinya. Dengan tetap tersenyum penuh kebahagaian ayah pulang ke rumah dan berujar ke mamaku ”Ma, hari ini ayah berhenti kerja, mama tak mau kan uang Haram mengalir di darah anak kita yang kita jaga selama ini? Bumi ini luas, dan Allah tak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang memegang prinsip hidup.”. Mamaku menyambut dengan penuh senyum atas keputusan ayah, selalu saja mamaku menjaga kesetiaannya menjadi belahan jiwa dari ayah.

Hingga kini, aku masih selalu menganggap rumahku sebagai SuperCamp, ayah memang sangat cepat meninggalkan kami, saat kelas 1 SMP aku ditinggal ayah, belum cukup rasanya aku ditempa melalui SuperCamp, namun pondasi SuperCamp sekokoh batu karang di hati kami, dan terbukti kami dapat bertahan hidup hingga kini dengan tetap mempertahankan kekompakan kami sebagai anggota SuperCamp yang saling menopang. Kami tujuh bersaudara, dan itulah cita-cita ayahku menelurkan banyak generasi yang dididik oleh tangan besi ayah dan kelembutan hati mama. Dan selamanya akan selalu begitu untuk anak kami dan cucu mama dan ayah.

Satu hal yang menjadi janjiku dan saudaraku, bahwa kami akan tak akan berhati seperti tikus dalam ceritamu itu, kami akan mewarisi kejernihan hatimu, keteguhan prinsipmu dan kemuliaan yang engkau cita-citakan pada kami dalam SuperCamp yang engkau ciptakan untuk kami. Amien. Wallahu A’lam Bish Shawab.

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About abdullatiefku

Check Also

Hidup Kreatif

HIDUP KREATIF       “Untuk menjadi kreatif, kita harus terbiasa untuk tidak terbiasa”–Yoris Sebastian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *