Breaking News
Home / Tulisan / Spiritual / Teman Kost Ku Menyambut Ramadhan

Teman Kost Ku Menyambut Ramadhan

Teman kost Menyambut Ramadhan

Jakarta, 1 September 2008 Pkl.03.25 WIB.

Oleh Abdul Latief

Sejak dua minggu yang lalu, remaja itu sudah mengenakan baju gamis putih yang menjuntai di tubuhnya hingga lutut. Sesekali baju gamisnya dia padukan dengan celana panjang putih atau kain sarung berwarna hijau muda, semuanya tampak lengkap dengan tambahan peci hitam dan sajadah biru tua yang menyelempang di pundak kanannya.

Dia masih berdiri di depan cermin besar yang menggantung di samping luar kamar kost ku. Sesekali dia tersenyum sendiri sambil merapikan baju gamis yang terkesan agak kelonggaran di tubuhnya yang kurus, tapi senyum lebar di bibirnya menandakan betapa dia puas dengan penampilannya. ”Assalamu’alaikum mas… dah bangun?” sapanya padaku di pukul 04.50 pagi itu.

wa’alaikumussalam, dah shalat? Wah tampilanmu mirip syekh dari Mesir.. cocok banget..!” balasku padanya sambil berusaha menebar senyum yang masih khas beraroma pagi, mungkin udara di mulutku ini bisa mematikan puluhan nyamuk nakal di kamar kostku.

Alhamdulillah sudah mas..” jawabnya sambil mengambil minum dari dispenser di samping cermin.

Kamu yang semalam ngaji, sekalian tahajud ya?” tanyaku sambil berusaha membuka mata sebelah kananku yang serasa di lem rapat.

 

Alhamdulillah mas… ya, itung-itung pemanasan buat ramadhan dua minggu lagi. Mari mas, saya ke kamar dulu, lanjutin mengaji” jawabnya sambil tersenyum menjauh dariku menuju kamar kostnya yang terpisah satu kamar dari petak kamarku.

Sejenak aku terdiam kaku, pikiranku menerawang entah tentang apa, jiwaku serasa terhipnotis oleh tutur katanya yang tulus, tanpa sedikitpun terselip nada pamer atas ibadah yang dilakukan olehnya. Sesaat itu pula aku merasa sangat malu dan kerdil dihadapannya. Malam itu, pukul dua aku memang bangun, tapi bukan untuk tahajud atau mengaji quran, melainkan untuk buang air kecil dan membasahi dahagaku dengan segelas air putih, selanjutnya kembali tertidur pulas dengan bunga tidur yang tak pernah memberiku apapun.

 

Sejak itu, perhatianku tersedot padanya. Tak jarang aku berdiri di depan kamarnya hanya untuk sekedar mendengar sayup lantunan suaranya membaca ayat suci Al Quran. Selalu aku pasang jam weker-ku agar tidak telah shalat subuh, tapi tetap saja dia sudah terbangun lebih dahulu dariku dengan mengenakan gamis putihnya, kemungkinan dia sudah tahajud dan akan segera shalat subuh. Bahkan beberapa subuh dia sudah berada di kamar cuci pakaian sambil berdendang shalawat. ”Subhanallah..” gumamku memekuri kekerdilan diriku.

Kebiasaanya bermain gitar tidak pernah dia tinggalkan, sesekali seusai makan malam kusempatkan berbincang dengan rekan-rekan di beranda kost yang cukup nyaman, di sanalah kumasih dengarkan dia berdendang dengan memeluk gitarnya. Ada yang lain dari nuansa lagunya, kali ini yang kudengar hanya lantunan salawat, lagu Religi dari Grup Band Gigi, Ungu, atau lantunan nasid Senada, Raihan ataupun Izzatul Islam. Sesekali kuikut berdendang shalawat atau bernyanyi bersamanya, tapi hapalan shalawat dan dendang laguku tak selengkap memori musikal dan penghayatan yang dimainkannya.

Dua minggu menjelang ramadhan ini, aku tengah terhipnotis dengan novel, cerpen dan buku pengembangan diri yang menghiasi lemari bukuku. Senyum karyamin karya Ahmad shobary, Anjing bagus, sang musafir dan The lone samurai, adalah beberapa novel dan kumpulan cerpen terbitan Gramedia yang tengah akrab denganku. Tapi berbeda dengannya, dia lebih akrab dengan al-quran dan beberapa buku Islami yang dibacanya di beranda sambil sesekali menerawangkan pandangannya dan tersenyum angkasa, mungkin dia tengah bersyukur pada Sang Maha Pencipta.

 

***

 

”Mas, saya sedih rasanya ramadhan ini jauh dari rumah, Kalau saja ada jatah cuti panjang, pasti saya akan ambil semuanya agar bisa sebulan penuh menghabiskan ramadhan di rumah” dia memulai perbincangan denganku selepas magrib tadi, setelah sebelumnya menyalami setiap penghuni kost seraya meminta maaf dan mengucapkan selamat berpuasa.

Ini ramadhan pertamamu jauh dari rumah ya?” tanyaku sambil menikmati sebungkus nasi di beranda kost.

”Ini Ramadhan kedua saya jauh dari rumah, tapi selalu saja bertambah sedih ketimbang yang kemarin. Saya teringat kebiasaan saya menghabiskan waktu ramadhan di rumah, saya biasa ikutan mengurusi ramadhan di mesjid dekat rumah saya. Sahur bareng keluarga, beribadah tanpa harus memikirkan kantuk di tempat kerja, bahkan seringkali harus tertidur di mesjid sambil mengaji dan menunggu membangunkan sahur para warga. Tapi Ramadhan sekarang saya semakin jauh dari Allah rasanya.” paparnya.

Aku menghela napas sambil mengunyah dan memasukan suapan nasi yang masih menyesak di mulutku. ”Itulah konsekuensinya kita menjadi orang yang semakin dewasa dan tua. Kondisi ini mungkin akan dialami oleh semua orang, atau paling tidak kamu dan saya tidak bisa menolak hal ini. Dimanapun kita berada yang terpenting kita tetap menjaga keimanan, kualitas diri dan kejernihan hati kita. Bukankah kamu sudah mempersiapkannya untuk ramadhan ini? Nanti saat pulang kampung, oleh-oleh serta kehadiranmu disamping orang tuamu adalah kebahagiaan yang tak terkira untuk mereka. Bukankah membahagiakan orang tua adalah pahala yang tiada bandingannya? Jadi kamu gak usah bersedih, apalagi orang tuamu masih lengkap. Kalau saya, sejak 12 tahun yang lalu ayah saya tidak bisa lagi berlebaran bareng bersama kami, sedh juga sich, tapi apa boleh buat, saya berusaha tetap  bersyukur” sejenak aku termenung mengenang indahnya ramadhan bersama almarhum ayahku dan kakak lelakiku yang kini tengah dinas di Libya, tak terasa sebutir mutiara bening menetes dari pelupuk mataku.

”Betul juga mas, kalau sudah kerja rasanya lebaran menjadi berbeda. Walaupun sedikit, kita masih bisa berbagi rezeki untuk keponakan dan pengalap berkah di pemakaman saat nyekar. Ya semoga saja Ramdahan ini limpahan pahala dan rezeki bisa kita dapatkan. Nanti tarawih di mana mas?” ujarnya sambil tersenyum lebar dan merapikan gamis yang tengah dipakainya.

”Saya sich di mesjid Kodamar, mau ikut? Tapi nanti berangkatnya sebelum azan Isya, tarawih pertama biasanya rame banget, khawatir kita gak kebagian tempat, apalagi baru aja hujan, pasti becek, repot klo kebagian di luar”

”Ok mas, saya ikut, tapi nanti kita cari tempat paling depan ya, biar fokus dengarin ceramah tarawih”

OK deh… yuk kita wudhu, 15 menit lagi azan kita wudhu dulu..” ajakku sambil memasukan bungkus nasi kosong ke tempat sampah.

Saya masih punya wudhu mas, saya tunggu di sini aja mas.. ” jawabnya sambil mengambil gitar dan bersenandung shalawat badr.

***

 

Teman kost yang kuceritakan tadi berumur 23 tahun, dia lulusan STM dan kini tengah menapaki jejak karir nya sebagai tenaga kontrak di sebuah perusahaan perakitan mobil merk ternama asal Jepang. Nama pemuda itu, ”Hanya KUSNANDAR mas, tak ada kepanjangan apa-apa. Saya juga tak tahu maknanya apa, tapi yang jelas orang tua saya selalu berharap bahwa saya menjadi orang yang beriman dan berguna bagi umat” jawabnya kala kutanya nama panjang dan maknanya, sambil berjalan menuju mesjid untuk shalat Tarawih malam pertama di Ramadhan 1429 H.

Pukul 2.20 pagi ini aku terbangun oleh ketukan pintu kamarku dan pada pintu-pintu di kamar kost lainnya, padahal aku pasang weker pukul 2.45. Saat kulongok, sesosok tubuh bergamis putih menyapaku sambil berucap ”Assalamu’alaikum… Sahur mas…!”.

Wa’alaikumussalam.. Kamu sudah sahur? Kita beli nasi bareng yuk..!” tanyaku sambil berusaha keras membuka kedua mataku yang masih lengket kedua belah pelupuknya.

Alhamdulillah sudah mas…” jawabnya sambil menyelempangkan sejadah di pundaknya dan menggenggamkan Al Quran di dada, ia berjalan menuju kamarnya. Setelah itu sesayup lantunan ayat Alquran terdengar dari belahan pintu kamarnya. **

www.pondok-harmoni.com

Follow: @pondok_harmoni

About abdullatiefku

Check Also

Memecah Kebekuan Hati

Memecah Kebekuan Hati Jakarta, 27 Maret 2008 Oleh Abdul Latief “Hattrick….!” teriakku pagi ini. Tiga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *