Breaking News
Home / Tulisan / Motivasi / Temukan Diri

Temukan Diri

TEMUKAN DIRI

 

pondok-harmoni.com – Salah satu kebiasaanku yang tak bisa hilang adalah harus membaca sebelum tidur. Mataku sulit terpejam sebelum membaca, membaca apa saja dari mulai buku, majalah, koran, atau sekedar email dan berita di gadget. Hingga tak heran kalau semua buku yang kumiliki seringkali sobek atau lecek karena tertiduri.

 

Tadi malam, entah kenapa aku enggan untuk membaca, walhasil aku mencoba mencari channel yang cocok untuk mengisi dahaga pikiran sebelum tidur. Salah satu siaran yang menarik perhatianku adalah acara dialog santai di TVRI yang dipandu punggawa perubahan, Rhenald Kasali yang menggali kisah Sujiwo Tejo, dalang nyentrik Indonesia.

 

Perbincangan sedemikian asyik membahas tentang filososi wayang yang seringkali dibawakan Mbah Jiwo dengan cerita yang melawan mainstream pewayangan. Misalnya, tokoh Dewi Shinta sejak dulu kala diceritakan dengan alur penculikan secara paksa oleh Rahwana Raja Raksasa yang rakus dan kejam. Namun oleh Mbah Jiwo alurnya di balik dengan menjadikan Dewi Shinta sebagai sosok yang berusaha agar diculik oleh Rahwana, bahkan digambarkan bahwa Rahwana adalah seorang tokoh ‘Bad Boy’ yang menawan hati Dewi Shinta.

 

Jelas alur nyentrik tersebut seringkali mendapatkan protes dari khalayak pewayangan, toh malah mbah Jiwo menjadikan hal menjadi sudut pandang baru dengan filosofinya tersendiri.

 

‘Melawan Mainstream’ yang dilakukan Mbah Jiwo ternyata menjadi gambaran perjalanan hidup dirinya. Mbah Jiwo adalah anak seorang dalang, sejak dalam kandungan dia diakrabkan dengan gamelan dan ragam cerita pewayangan, namun sejalan dengan perkembangan dunia seni yang masuk ke Indonesia, membuatnya membenci dalang seligus ayahnya karena membuatnya tidak terlihat ‘keren’ ketimbang anak muda lain yang memainkan gitar dan menggemari musik blues, rock dan pop.

 

Semasa kuliah, Mbah jiwa diterima sebagai mahasiswa teknik sipil ITB yang semakin mengukuhkan dirinya menjadi manusia modern. Namun lagi, dia temukan dirinya tidak cocok menjalani profesi sebagai teknisi, yang akhirnya menghantarkan dirinya menjadi seorang wartawan.

 

Jiwa seni memanggilnya kembali, Ia sempat juga melamar menjadi salah satu anggota srimulat, namun permohonannya diabaikan. Pun halnya ingin bermain teater bersama WS Rendra,ia ditolak. Dan akhirnya pada sebuah kesadaran akan menemukan diri, ia terpanggil untuk mendedikasikan diri menjadi seorang dalang, yang menjadi pilihan dirinya sendiri, bukan paksaan ayahnya yang juga dalang.

 

Dalam hidupnya, Ia tidak berhenti menemukan dirinya, saat terjawab Penemuan atas penggilan jiwanya, tidak disia-siakan, semua dijalani dengan penuh totalitas. Totalitas itulah yang menjadikannya salah seorang dalang professional indonesia.

 

Lantas bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menemukan panggilan jiwa kita? Atau malah kita menyerah pada keadaan dengan berkata. “Ya sudah, memang begini nasibku..”

 

Kecerdasan dan kemampuan kita saat ini barulah sebatas ‘potensi’, dan potensi belum merupakan ‘hasil’ jika kita tidak memaksimalkan potensi yang kita miliki tersebut, bahkan potensi tersebut akan menguap hilang beserta angan kita saat tidak digunakan sebagaimana mestinya.

 

Bagi para tokoh yang sudah sukses, mungkin bisa saja merekayasa proses dan menciptakan sosok ideal bagi keturunannya. Keluarga Papandreou misalnya, mereka secara turun-temurun ‘mewariskan’ kepemimpinan yunani selama 4 generasi, dan akhirnya pada masa George Papandreou menjadi perdana menteri, sukses menghantarkan Yunani ke badai krisis yang terparah sepanjang masa.

 

Atau jangan lupa kisah kerajaan yang secara turun temurun ‘memaksakan’ warisan tahta, toh pada akhirnya tidak semuanya memiliki panggilan jiwa dan bakat yang sama untuk melanjutkan paksaan tersebut. Hingga berakhirlah sejarah kerajaan tersebut.

 

Pun sejarah kepemimpinan Indonesia, yang tak pernah sukses ‘memaksa’ keturunan melanjutkan kesuksesan orang tuanya jika bukan pada panggilan terdalam jiwanya. Megawati dan soekarno, tutut dan soeharto, gusdur pada yeni wahid, atau SBY pada Ibas yang akhirnya mengundurkan diri dari parlemen atau pada saat KLB di Bali selalu melihat jam tangan seakan tidak merasa tidak nyaman. Pun demikian halnya para raja-raja kecil di daerah.

 

 

Dan coba kita tengok, berapa banyak potensi anak berbakat yang mati akibat paksaan dan obsesi dari para orang tuanya. Atau kalaupun sukses meraih apa yang diinginkan orang tuanya, belum tentu menjalaninya dengan enjoy sebagai panggilan jiwa dirinya.

 

Meminjam istilah Rhenald kasali, bahwa setiap orang memiliki DNA nya masing-masing, yang tidak identik sama.

 

Untuk itu, marilah kita menemukan panggilan diri kita, bahkan jika perlu kita coba ‘Melawan Mainstream’. Toh melawan mainstream tidak selalu berkonotasi negatif, dan tidak selamanya berbuah kegagalan. Bahkan malah seringkali hal tersebut mengembalikan kita pada jalur yang lebih tepat.

 

Mari kita mengetuk pintu diri kita, saat satu pintu tertutup,akan ada pintu lain yangg bisa terus coba kita ketuk, dan mungkin pintu itulah yang akan menghantarkan pada pintu milik kita sesungguhnya.

 

Selamat menemukan panggilan diri…

 

@Bus Primajasa Jurs.Priuk-Merak. 17 april 2013.

Oleh Abdul Latief, WTS

WTS: Writer Trainer Speaker. Penulis telah menerbitkan beberapa buku dan aktif di pengembangan sumber daya manusia, training public speaking, leadership, managemen, motivasi, dan beragam program lainnya bagi termasuk menyemai pengembangan para pelajar dan mahasiswa di Banten dengan program Early Leadership dan Early Motivaton.

follow twitter: @pondok_harmoni

Instragram : @abdullatiefku & @harmonydailyquotes

Email : pondok.harmoni@gmail.com

About abdullatiefku

Check Also

Katak Tuli

Katak Tuli     pondok-harmoni.com – Sebulan yang lalu, entah mengapa aku rindu pada Profesor …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *